Umroh di Malam 21 Ramadhan

Setelah terbangun pukul 01.30 tadi aku ngerasa susah tidur lagi. Sebagian besar penumpang sedang tertidur pulas. Aku sesekali tidur, kemudian bangun, memperbaiki posisi, melihat keluar jendela, ngecek posisi pesawat dilayar, nyalain murottal, ngeliat jam, eh hhh kenapa ngeliat jam ih jadi inget lagi. Sudah waktu subuh untuk wilayah Jakarta, tapi kami belum sampai Jakarta, masi diatas Samudera Hindia. Jadi aku gak tau kapan waktu Subuhnya. Nanti dikasi tau sama kru pesawat biasanya. Pikiranku melayang lagi, kali ini ke Kota Suci yang pertama. Makkatal Mukaramah.

Aku rindu Syaikh Ghamidi. Pada sekali waktu, beliau memimpin sholat shubuh di Masjidil Haram. Tak biasanya. Kemarin-kemarin bukan beliau. Sholat Shubuh yang sebelumnya ku jalani dengan begitu ringan karna hanya 2 rakaat menjadi begitu bermakna. Aku menginsyafi, bahwa sholat shubuh tidak lagi sekedar sholat 2 rakaat. Karna di Shubuh itu, baru pertama kali aku bermakmum pada imam yang suaranya bergetar manahan tangis sejak ayat pertama surat ALFATIHAH di rakaat pertama! Bahkan pada beberapa ayat beliau berhenti, menangis, untuk kemudian melanjutkannya kembali. Seterusnya hingga selesai sholat. Maasyaa Allah! Sungguh shubuh yang menggetarkan jiwa.

Kota suci ini, seluruh isinya betul-betul menggetarkan jiwa. Mari kuceritakan padamu perjalananku menginjakkan kaki pertama kalinya di kota tempat Ka’bah itu berdiri. Makkatal Mukaramah Jika sesuai rencana, sedianya rombongan kami yang laki-laki akan melaksanakan sholat jumat di Masjid Nabawi kemudian kami akan bertolak ke Makkah. Sehingga malam harinya kami sudah dapat merasakan malam 21 Ramadhan disana. Namun Sang Ustadz sekaligus mutowwif kami yang memang berdomisili di Makkah menjelaskan kondisi lalu lintas Mekkah pada 10 malam terakhir. Super padat dan macet dimana-mana. Semua orang berlomba-lomba menuju Masjidil Haram. Akhirnya diputuskan kami berangkat ke Makkah lebih pagi dengan perkiraan Ashar sudah tiba di Makkah.

Dalam 6 jam perjalanan Madinah ke Makkah, kami sekaligus mengambil Miqot di Bir Ali untuk berihram. Kemudian sepanjang jalan diisi dengan perbanyak membaca talbiyah dan dzikir. Tidur juga, untuk menjaga stamina karna setibanya di Mekkah nanti kami akan langsung melaksanakan umroh. Dari dalam bis aku memperhatikan jalanan antara Madinah dan Mekkah. Subhanallah, aku kaya lagi di zaman batu rasanya. Sejauh mata memandang adalah hamparan tanah bebatuan. Banyak gunung terlihat disepanjang jalan itu. Yang tampak bukan gunung berlapis pohon-pohon hijau melainkan gunung berlapis bebatuan sehingga terlihat coklat kehitaman. Sepi, tanpa penghuni. Gunung-gunung itu terkesan “dingin”, gagah dan berwibawa. Sesekali ada pom bensin, rumah makan, dan semacam pabrik tapi itu jaraaaanng sekali, dan lagi-lagi, sepi. Lalu lintas pun sangat lancar dan relatif jarang kendaraan. Diantara gegunungan itu aku lihat suatu jalur yang nampak seperti sungai, tapi tak berair dan yang terlihat didasarnya, lagi-lagi, batu. Kami sempat berhenti di sebuah Masjid tepi jalan untuk sholat jamak qoshor Zuhur dan Ashar. Masjidnya tidak besar, dan airnya saat itu sedang kering sehingga kecil sekali alirannya dan sesekali mati. Itu adalah siang hari antara Madinah dan Makkah.

Memasuki Kota Makkatal Mukaramah kami membaca doa memasuki kota Suci ini. Ada haru biru di dada, rasa penasaran sekaligus gerimis di hati manakala kami mulai memasukinya. Seperti apa gerangan kota suci itu? Bagaimana rupa dan bentuk tanah haram tempat ummat muslim seluruh dunia berpusat tersebut? Kaya gimana orang-orang didalamnya? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar diotak berbarengan dengan dzikir yang terlantun di bibir. Subhanallah, rupanya Kota yang menyimpan sejarah panjang perjuangan dakwah millah Ibrahim ini telah sangat maju. Bangunan-bangunan tinggi dikiri kanan jalan berderet-deret. Uniknya bangunan tersebut banyak yang dibangun diatas bukit-bukit berbatu sehingga masih dapat dibayangkan bagaimana rupanya tanah haram ini dahulu kala. Nampaknya di tanah haram ini dulunya adalah dataran bebatuan yang berbukit-bukit. Bukan padang pasir yang luas sejauh mata memandang seperti yang aku bayangkan hehe.

Bis kami masih melaju menuju pusat pertemuan ummat muslim seluruh dunia. Benar kata Ustadznya, macet. Panjang sekali. Luar biasa semangat ummat muslim setempat dan pendatang yang ingin memasuki tempat jamuan Allah di awal 10 malam terakhir yang sebentar lagi tiba. Jam menunjukkan pukul 15.30 ketika jalanan mulai tersendat. Hotel kami sudah ada di sebrang jalan tapi kami harus melalu jalur yang memutar karna macetnya panjang dan jalurnya terus menerus dialihkan. Ustadnya mencontohkan kepada kami untuk memperbanyak dzikir dan membaca surat Alam Nasyroh. Subhanallah, Alhamdulillah akhirnya kami sampai di hotel, jam 17.00. Butuh 1.5 jam untuk mencapai tempat ini 😀 Hotel tempat kami nginep terbilang dekat dengan Masjidil Haram karna bisa ditempuh berjalan kaki 5 menit. Setelah menaruh barang-barang didalam kamar dan ifthar serta sholat Maghrib, kami memulai umroh menuju Masjidil Haram.

Jalan Menuju Masjidil Haram

Jalan Menuju Masjidil Haram

Jamaah yang memasuki Masjidil Haram luar biasa. Super duper ultra mega giga luar biasa BANYAK sekali banget to the maximum (Ka’bah Al-Musyarafah Saat di hotel sebelum berangkat ke Masjidil Haram sebelumnya kami memantau kepadatan tempat tawaf melalui siaran langsung di stasiun televisi yang 24 jam menyiarkan aktivitas di Masjidil Haram . Memperkirakan kira-kira kami bisa thawaf di lantai 1 atau harus ke lantai 2 dan mungkin lantai 3. Berdasarkan pantauan itu, orang-orang yang thawaf sedang padat sekali, padat sekali, padat sekali. Ustadznya mengatakan kemungkinan kami akan thawaf di lantai 2 atau 3 karena dibawah sudah sangat padat. Ada desir sedih di hati. Aku ingin dilantai 1. Tempat dimana Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Nabi Muhammad SAW-ku yang tercinta pernah menjejakkan kakinya berthawaf keliling Ka’bah Al Musyarafah tersebut.

Seusai sholat Isya berjamaah, kami langsung beranjak menelusup keramaian manusia untuk bisa masuk ke Masjidil Haram. Ustadznya sampai berpesan, “Setelah sholat Isya kita langsung berdiri dan jalan ke Masjidil Haram ikuti saya ya. Harus segera setelah sholat isya supaya kita bisa masuk.” Jadi setelah salam tahiyat akhir sholat Isya itu kami langsung berdiri dan jalan ke arah Masjidil Haram. Aku takjub pada banyaknya manusia berlalu lalang hingga sesekali membuatku hampir kehilangan rombongan saking crowdednya. Sesuai instruksi ustadznya sejak di hotel, kami harus ikuti dia supaya bisa umroh bersama. Satu komando, satu tujuan. *Caileh. Lebih dari itu, karna aku dan beberapa rombongan baru pertama kali menginjakkan kaki di Masjidil Haram jadi gak tau apa-apa kecuali ngikutin jalan yang ditunjukin Ustadznya.

Daaaaannnn,,inilah mungkin berkah berjamaah dan taat pada pemimpin rombongan saat bersafar. Tiba-tiba Ka’bah sudah didepan wajah kami. Allahu Akbar!! Kami dilantai 1. Di tempat dahulu Ibrahim, Ismail, dan Muhammad SAW berthawaf. Alhamdulillaah. Pujian, pujaan, bagiMu ya Rabbalharramain, duhai pemilik Ka’bah, baitullah, dan tanah haram ini T_T Aku ingin langsung sujud, tapi manusia banyak banget khawatir terinjak-injak jadi urung. Maka kami langsung melaksanakan thawaf. Dan begitu pula yang dicontohkan baginda Muhammad SAW ketika bertemu Ka’bah: thawaf.

Usai berthawaf 7 putaran, kami sholat sunnah thawaf 2 rakaat. Saking penuhnya, kami baru bisa sholat dijalanan menuju tempat sa’i. Baru kemudian kami melaksanakan Sa’I. Berjalan dari bukit Shafa ke bukit Marwa, 7 kali bolak balik. Kalian pernah baca kan di blog ini kalo aku beberapa kali naek gunung? Dan aku bersaksi, ternyata Sa’I itu lebih pegel dari naik gunung yang selama ini kulakukan. Yah walaupun selama ini baru gunung ecek ecek sih hehe. Sepanjang Sa’I itu rasanya kaki kaya udah kebas saking pegelnya. Maasya Allah, duhai Ibunda Siti Hajar, beginikah engkau merasakan? Ah bahkan tempat Sa’I sekarang ber-AC dan sudah di keramik. Engkau dulu bertelanjang kaki kah duhai Ibunda? Berterik matahari dan berpeluhkah? Maalu kami padamu yaa Ummu Ismail 😥 Rangkaian Sa’I kemudian ditutup dengan bertahalul di bukit Marwa. Alhamdu..lillaah! Note: Masi banyak cerita yang pengen ditulis insyaAllah:

  • Malam 27 Terspektakuler
  • Hujan di Masjidil Haram
  • “Sentilan” Mak Mica Sepanjang Umroh
  • Hari Raya di Tanah Haram
  • Persaudaraan Islam
  • Nikmat yang Lebih Nikmat

Doain yah biar bisa nulisnya..aku gak pengen ilang ingatan tentang semua yang dirasakan di tanah haram 😥 Catatan-catatan ini mudah-mudahan bisa jadi pengingat diri sendiri terus-terusan. Dan semoga bisa menginspirasi 🙂

Advertisements

Berjalan di Kota Nabi SAW

Aku terbangun. Ku lirik jam ditangan masih menunjukkan pukul 01.30 dini hari. Kulihat disebelahku papa masih tertidur, sedangkan mama dan adikku duduk agak jauh dari kami. Kemudian ku layangkan pandangan ke luar jendela pesawat, nampak gemerlap lampu kota nan cantik jauh dibawah sana. Layar dihadapanku mulai ku mainkan untuk melihat dimana posisi pesawat ini berada. Rupanya diatas sekitaran Colombo, pantes ada kerlap kerlip lampu nun jauh dibawah sana. Playlist murottal AsSudais yang terbawa tidur sejak tadi kemudian ku matikan karna konon kalau mendengar murottal harusnya disimak 🙂 Kacamata yang turut serta dalam tidur pulasku barusan juga ku lepas dan ku usap wajahku dengan tangan. Hmmmhhh aku rindu! Baru saja kutinggalkan beberapa waktu lalu, aku sudah rindu. Ah rasa rasanya aku sudah rindu sejak sebelum berpisah tadi. Aku rindu, sedang rindu dan akan selalu rindu. Jam segini harihari kemarin biasanya aku sedang terhanyut dalam lantunan ayat suci dalam sholat yang bermakmum pada Imam Masjidil Haram. Subhanallah, malam ini AsSudais hanya kudengar lewat earphone padahal rasanya baru kemarin aku bermakmum langsung padanya. Hhhh aku rindu!

Sepertinya dadaku sesak tiap kali melihat jam. Apalagi jam di telpon genggam yang sengaja ku pasang 2 waktu: Waktu Indonesia dan Waktu Jeddah. Tiap lihat jam sekarang aku selalu membandingbandingkan: “biasanya jam segini aku lagi sholat dzuhur di masjidil haram”, “biasanya jam segini aku udah mulai buru-buru jalan kaki dari hotel ke masjidil haram”, “biasanya jam segini lagi nunggu waktu berbuka bersama orang-orang dari berbagai macam suku, ras dan warna kulit, masing-masing khusyuk larut dalam doanya diwaktu dan tempat mustajab itu atau sedang saling sapa dengan bahasa tarzan atau sedang tersenyum lebar pada orangorang yang tibatiba menyorongkan segepok kurma ke pangkuanku bertubitubi. “Syukron, baarakallah” begitu biasanya ku balas.” Begitu seterusnya. Hmmhh aku akan rindu masa masa itu di setiap waktuku.

***

17 hari yang lalu, 15 Juli 2014, setelah pesawat Garuda yang kami tumpangi landing di bandara King Abdul Aziz, aku takjub pada apa yang terhampar dihadapanku. Dataran coklat sejauh mata memandang. Sesaat ketika keluar pesawat, udara diluar langsung menyergap tubuhku, hangat. Mentari sore menyambut kami. Rasanya aku ingin sujud saat itu juga, bersyukur, mencium tanah dimana mungkin nabi SAW pernah menginjaknya. Tapi kutahan karna malu 😀 Saat berjalan menjauhi pesawat aku membatin “alhamdulillaah! Hei ini untuk pertama kalinya aku menjejakkan kaki di luar negeriku Indonesia :)” norak! 😛

Ini juga untuk pertama kalinya aku puasa ramadhan 19 jam 🙂 Buka puasa masih 1.5 jam lagi. Maka mengurus bagasi dan sebagainya menjadi ajang ngabuburit bagi kami. Adzan maghrib berkumandang sekitar jam 19.10 di kota ini, kami langsung menyegerakan berbuka. Tak lama kemudian kami dipersilakan masuk ke dalam bis yang akan membawa kami ke Madinatul Munawarah. Dalam perjalanan kurang lebih 6 jam itu, kami makan malam kemudian istirahat. Barangkali itu adalah tidur yang paling nikmat yang pernah kurasakan. Nikmat sekali walau hanya 2 jam. Karna setelah dibangunkan, seluruh rasa pegel disekujur tubuhku sirna, alhamdulillaah. Kami dibangunkan untuk sholat jamak qoshor maghrib dan isya di sebuah masjid ditepi jalan antara Jeddah dan Madinah. Aku lupa nama masjidnya.

Madinatul Munawaroh
Ketika memasuki kota Madinah, sekitar jam 1 pagi, mutowwif kami mengajak kami melantunkan doa masuk kota suci dan kemudian memperbanyak sholawat karna ini adalah kotanya Nabi Muhammad SAW. Disini beliau SAW dikuburkan.

Yaa Nabi salam ‘alaika, Yaa Rasul salam, salam ‘alaika, Yaa Habib salam ‘alaika, Sholawatullah ‘alaika.

Rasanya ada gemuruh didalam dadaku dan tak terasa pipiku basah. Subhanallah walhamdulillah walaa ilaaha ilallah waallahu akbar! Nabiiiiiii akhirnya aku bisa menginjakan kakiku di tanah yang pernah engkau pijak, akhirnya aku akan bisa mencium tanah suci ini, sujud sedalam dalamnya di tanah tempat engkau berdakwah 10 tahun dan menghabiskan sisa hidupmu. Allaah…terima kasih sudah mengantarku “bertemu” dengan Nabi SAW!

Setelah memasukan barang barang ke dalam kamar kemudian sahur, kami langsung beranjak ke masjid nabawi untuk sholat malam sampai shubuh. Nikmaaaaaatttt sekaliii, alhamdulillah! Kalian tau kan, didalam kompleks masjid nabawi itu ada makam rasulullah saw? Iyah Rasulullah SAW yang selama ini sering kita perbincangkan! 🙂 Sering kita sebut sebut dalam setiap tahiyat sholat, dalam ceramah ceramah atau sekedar shalawat, bahkan ia bisa membuat kita marah jika ada yang menghinanya. Bisa bayangin kan gimana rasanya sholat di dekat makam nabi yang bahkan aku gak pernah lihat wajahnya tapi entah gimana bisa begitu mencintai dan begitu excited saat bisa sujud menyembah Allah, tuhanku dan tuhanmu, beberapa meter dari makam seseorang yang memperkenalkan tentang Allah pada kita. Masya Allah, nikmat ya Allah.

Sebuah sisi di Masjid Nabawi

Sebuah sisi di Masjid Nabawi

Hanya tiga hari kami di kota nabi ini tapi rasanya lamaaaa sekaliii. Karna benarbenar feels at home. Setelah ku amati, tepat rasanya jika nabi memilih Madinah sebagai tempat hijrah. Orang orang di dalamnya ramah ramah. Bahkan bangunan masjid nabawi pun membawa kita pada suasana hati yang riang gembira, begitu pun orang orang di dalamnya. Masya Allah.

Disini serba teratur. Dari mulai bangunan sampai sistemnya. Setiap waktu berbuka, semacam ada panitia khusus yang melayani para tamu Allah yang berpuasa. Semua serba disediakan didepan mata, sangat teratur. Semua kebagian. Ribuan mungkin ratusan ribu manusia di masjid itu. Aku tak tau pasti jumlahnya. Yang jelas ramadhan adalah magnet tersendiri bagi muslim setempat dan dari berbagai belahan dunia untuk menghabiskannya di tempat mulia ini.

Hampir sebagian besar tamu Allah di Masjid Nabawi maupun Masjidil Haram pada bulan Ramadhan adalah orang Arab. Konon pada bulan ramadhan itulah orang Arab diprioritaskan berumroh berdasarkan kebijakan dari kerajaan Arab Saudi. Itulah juga sebabnya umroh pada bulan ramadhan terbilang jauh lebih mahal dari umroh reguler karna kuotanya terbatas bagi yang non-Arab. Gitu kata mutowwif kami. Maka sejauh mata memandang, khususnya dibagian tempat sholat wanita isinya adalah wanita wanita berbaju hitam yang terulur dari ujung kepala sampai kaki dan bercadar.

Soal pakaian khas ini, aku jadi punya kesan baru gara gara memperhatikannya selama di Madinah. Ternyata indah dan anggun sekali yah mereka. Padahal sebelumnya aku agak risih kalo liat wanita bercadar dan berpakaian serba hitam gitu di Indonesia. Di Madinah ini semua jadi terlihat berbeda. Mereka cantik cantik banget! MasyaAllah. Cantik dalam akhlak dan fisik. Bahkan ketika ku perhatikan lebih detil, pakaian mereka itu bukan sekedar hitam, tapi ada bermacam macam modelnya. Cantik, elegan dan modis. Sama sekali gak ketinggalan zaman. Sampe sampe aku tertarik untuk membeli gamis hitam yang seperti mereka pakai hehe. Di Madinah bajunya bener bener bagus bagus lho. Ini malah ngomongin baju! Dasar cewe haha.

Raudhah
Sepenggal taman Syurga ini letaknya antara makam Nabi SAW dan mimbar beliau. Dari gambaran itu aja rasa rasanya sudah cukup membuat kita ingin sampai di tempat itu yah? Apalagi pas tau disitu merupakan salah satu tempat mustajabnya doa. Disunnahkan sholat dua rakaat setelah menyampaikan salam kepada Nabi SAW, Abu Bakar ra., dan Umar Bin Khattab ra. di depan makamnya masing-masing yang ketiganya berdampingan. Allahu Akbar, rasanya gak percaya aku bakal sedekat ini dengan jasad Nabi SAW dan dua sahabat terdekat beliau T_T

Bagi laki-laki, bisa ke Raudhah kapan aja bebas. Tapi bagi perempuan, gak bisa sesukanya karna ada jadwalnya. Setiap hari jam 7-9 pagi saja. Oleh sebab itulah ketika mau memasuki raudhah, jamaah perempuan sampe desek desekan macem mau masuk ke tempat konser akbar. Subhanallah. Sejak mulai mengantri panjang untuk memasuki raudhah rasanya cukup membuat air mata deres mengalir. Gimana gitu ngebayangin bentar lagi bakal bener bener beberapa langkah dari tempat jasad Nabi SAW yang mulia di kuburkan. Bener bener gak bisa nahan air mata.

Raudhah ditandai dengan karpet berwarna hijau. Ketika kakiku akhirnya menginjak karpet hijau itu, aku membayangkan benar benar berada di taman surga tempat Nabi SAW bersemayam. Dan Nabi SAW mungkin menjawab secara langsung setiap sholawat dan salam yang dihaturkan kepadanya, satu satu. Serta meng-aamiin-kan doa doa ummatnya secara langsung juga. Aku betul betul membayangkan hal itu sehingga air mata makin menganak sungai. Tempat yang sangat terbatas itu bener bener penuh sesak. Sulit rasanya membayangkan bisa sholat 2 rakaat saja di tempat itu. Ku lihat beberapa orang yang sholat sampai di langkah langkahin orang bahkan mungkin terinjak. Tapi ku bulatkan tekad, berdoa mudah mudahan bisa sholat dengan sempurna di tempat mulia itu. Laa haula wa laa quwwata illa billah, Alhamdulillah tunai. Mau tau gimana rasanya sujud di tempat itu? Tak bisa ku gambarkan. Cuma bisa bilang: nikmaaatt luar biasa, Alhamdulillaah! 🙂

Di Halaman Masjid Nabawi Seusai dari Raudhah

Di Halaman Masjid Nabawi Seusai dari Raudhah

City Tour di Madinah
Pada hari ke-3 di Madinah, kami diajak oleh Mutowwif untuk ke beberapa tempat bersejarah di kota ini. Diantaranya adalah Masjid Quba, Masjid Qiblatain, perkebunan Kurma, Jabal Uhud dan Pemakaman para syuhada perang Uhud.

Perkebunan Kurma di Madinah

Perkebunan Kurma di Madinah

Masjid Quba. Seperti yang kita pelajarin waktu jaman sekolah, masjid Quba adalah masjid pertama yang di bangun oleh Rasulullah SAW setibanya beliau di Madinah saat berhijrah ke kota tersebut. Yang luar biasa adalah ada hadits yang kurang lebih mengatakan “barangsiapa yang bersuci dari rumahnya kemudian sholat 2 rakaat di masjid ini maka setara dengan berumroh”. Masya Allah. Alhamdulillaahh berkesempatan umroh sebelum umroh beneran 😀

Di Halaman Masjid Quba bersama Rombongan Umroh

Di Halaman Masjid Quba bersama Rombongan Umroh

Masjid Qiblatain, ini menarik lagi ceritanya. Dinamakan Qiblatain karna disitulah terjadi pemindahan kiblat yang tadinya menghadap ke Masjidil Aqsa kemudian dipindah ke Masjidil Haram. Mutowwif kami bercerita: saat itu Nabi SAW dan para sahabat sedang sholat ashar menghadap ke Masjidil Aqsa, baru 2 rakaat kemudian turun perintah perubahan kiblat tersebut, sehingga 2 rakaat selanjutnya mereka menghadap Masjidil Haram. Masya Allah 🙂 Jadi patut bin wajar banget kalau ummat Islam itu marah saat Al Aqsa diserang seperti yang terjadi di Palestina saat ini. Yang aneh adalah kalo ada ummat Islam yang nyinyir sama para pejuang maupun pendukung yang ingin mempertahankan Kiblat pertama ummat Islam ini!

Jabal Uhud. Aku betul betul bergetar ditempat ini. Tempat dimana cerita tentang perang Uhud yang selama ini ku dengar dari guru agama, di ceramah ceramah dan kajian sering diulang ulang. Sekarang ada dihadapan ku, dan sedang ku jejaki tanahnya. Ditambah dengan penggambaran cerita dari mutowwif kami langsung ditempat itu. Benarbenar pengalaman batin yang luar biasa. Jabal Uhud itu ternyata gagah sekali. Sangat berwibawa. Di depannya terhampar pemakaman para sahabat yang syahid pada perang Uhud. Makamnya luas dan sudah rata dengan tanah. Termasuk makam paman Nabi SAW yaitu Hamzah ra.

Berlatar Jabal Uhud

Berlatar Jabal Uhud

Ketemu Didi Petet di  Toko Perkebunan Kurma

Ketemu Didi Petet di Toko Perkebunan Kurma

***

Madinatul Munawarah, seluruh perjalanan di dalamnya betul betul menggetarkan hati, membekas di jiwa. Semacam napak tilas shirah nabawiyah. Luar biasa, masyaAllah walhamdulillah! 🙂
Ya Rabb…aku ingin kembali ke kota itu lagi pliiiisss T_T