Malam 27 Ter-spektakuler

Gak cuma di Indonesia, ternyata di Arab Saudi wabilkhusus di Masjidil Haram yang merupakan kiblat ummat muslim di seluruh dunia, malam 27 Ramadhan selalu saja lebih “wow” dibanding 10 malam terakhir lainnya. Dan ini adalah pengalaman malam 27 terspektakuler bagiku. Sebetulnya sejak awal umroh, mutowwif kami sudah memberikan gambaran bahwa malam 27 di masjidil haram akan sangat padat. Tapi aku gak nyangka seheboh ini.

Pada sore hari di tanggal 26 Ramadhan, aku umroh sunnah bersama mbak V dan mutowwif kami. Hanya bertiga karna ini memang umroh sunnah, hanya bagi yang mau. Sebetulnya kami sudah berangkat ambil miqot sejak jam 2 siang. Target kami, umrohnya bisa selesai setelah ashar. Tapi…hehe ternyata jalanan di Makkah jauh lebih padat daripada saat pertama kali kami memasuki kota ini pada jelang malam 21 Ramadhan lalu. Padatnya jalanan menyebabkan kami harus putar-putar arah untuk sampai Masjidil Haram. Dan yang demikian ini adalah tanda-tanda datangnya malam 27 Ramadhan bagi kaum yang mencari keridhaan Tuhannya (bukan hadits).

Kami tiba di Masjidil Haram ketika adzan ashar berkumandang. Seperti biasa semua pintu masuk sudah ditutup. Seluruh halaman masjid sudah dipenuhi lautan manusia. Kami mencari jalan masuk yang masih memungkinkan. Mutowwif kami memutuskan bahwa kami harus sholat ashar di dalam masjid karena setelah ashar nanti, jamaah akan semakin berlomba-lomba memasuki masjidil haram, baik untuk umroh maupun untuk itikaf malam 27. Hanya ada satu jalan, tangga yang menghubungkan kami langsung ke lantai 2. Dan, apa coba? Tangga ini penuh bukan main, sekali lagi, bukan main.

Gak ada kata ngalah memasuki masjidil haram di malam 27 ramadhan ini. Laki-laki dan perempuan semuanya berlomba, berdesakan. Aku sampe harus merembet di tembok untuk menaiki tangga ini. Luar biasa, aku gak bisa lupa betapa syulitnya. Ga berhenti sampai disitu, saat sudah sampai dilantai 2 kehebohan masih terjadi. Desak sana desak sini. Aku ngeri ngeliatnya. Mutowwif kami mengajak aku dan mbak V untuk menepi sebentar karena khawatir terinjak-injak. Kehebohan itu tak kunjung reda sedangkan waktu terus berjalan semakin sore. Akhirnya kami memaksa merengsek masuk kedalam arus untuk bisa umroh sebelum maghrib. Ini kali pertama aku bergerak maju tanpa perlu melangkah. Hanya diseret arus. Subhanallah.

Alhamdulillah kami sampai didalam masjid dengan selamat. Langsung ambil posisi untuk sholat Ashar. Dilanjutkan dengan tawaf. Ini adalah tawaf terpadat yang pernah kurasakan. Kami betul-betul sulit untuk mendekat kearah ka’bah sehingga bertawaf dilapisan paling luar. Dan ini juga adalah tawaf terlama bagiku. Bukan karena aku lelet walopun sesungguhnya aku emang lelet gitu orangnya hehe. Tapi karena padatnya manusia menyebabkan putaran tawaf menjadi semakin lambat. Lambat sekali. Saking penuhnya.

Kondisi Thawaf Jelang Malam 27 Ramadhan

Kondisi Thawaf Jelang Malam 27 Ramadhan

Usai tawaf, dilanjutkan dengan sai, dan tahalul. Pas sekali setelah selesai rangkaian umroh itu adzan maghrib berkumandang. Alhamdulillah. Kami berbuka diantara Shafa dan Marwa. Ta’jil sudah dibagikan ketika kami Sai tadi. Jadi dipinggiran jalur Sai sudah berderet para dermawan yang membagikan makanan bagi yang berpuasa. Nikmat sekali rasanya ifthor kali itu. Meski sedikit, tapi nikmatnya luar biasa.

Selesai sholat maghrib berjamaah, kami memutuskan untuk kembali ke hotel dulu untuk bebersih dan makan malam. Disana jarak antara maghrib dan isya lumayan lama, sekitar 2 jam. Rencananya kami akan memulai i’tikaf menjelang isya.

***

Aku berangkat lagi ke Masjidil haram bersama adiku menjelang sholat isya. Tak seperti biasanya, 30 menit menjelang adzan isya pintu masuk sudah ditutup. Bahkan bukan hanya pintu masuk, langkah kami tertahan didepan kerajaan Arab Saudi. Halaman masjidil haram sudah dipagari dan dijaga asykar, tidak ada yang diperbolehkan untuk masuk lagi. Subhanallah.

Ramai-ramai jamaah yang masih tertahan diluar ini demo dihadapan para asykar. Menuntut agar diperbolehkan memasuki masjid. Bukan main banyaknya. Demo itu rupanya sia-sia. Hingga adzan isya berkumandang, kami tetap ditahan diluar. Akhirnya apa? Akhirnya kami membuat shof sholat, sholat di jalan aspal, didepan kerajaan, bukan lagi sekedar dihalaman masjid. Tapi tetap bermakmum pada imam masjidil haram. Dan itu berlanjut sampai tarawih selesai. Tau tak? Meskipun malam hari, aspal di arab saudi itu panas seperti siang hari hehe subhanallah. Disebelahku ada wanita arab yang gak pakai alas apapun untuk sujud, bayangpun. Aku gak bisa nolongin karna sajadahku sudah dipakai untuk tiga orang dengan kaki langsung menginjak aspal 😦 Pake kaos kaki sih tapi tetep panas.

Walaupun kondisi sholat tarawihnya kayak gitu, ternyata ga mengubah kesyahduan sholat berjamaah dengan imam masjidil haram. Air mata (dan ingus :D) ngalir deras dari isya sampai kelar tarawih masyaAllah. Ada dua hal yang bikin kaya gitu. Pertama karna nikmat, kedua karna tobat. Tobat, takutnya ditahan diluar krn ga boleh masuk sama Allah T_T

***

Ketika tarawih selesai, para jamaah kembali berdemo. Uniknya tu gitu disini. Seheboh apapun aktivitas kita, ketika imam sudah kasih komando “Allahu Akbar” untuk mulai sholat, seketika itu juga semua aktivitas lain berhenti. Semua langsung sibuk membentuk shof sholat dan langsung mengikuti imam. Masya Allah. Jadi setelah sholat tarawih selesai, jamaah melanjutkan demo kembali. Semua berdiri berhadapan dengan para asykar.

Aku gak bisa ngeliat langsung para asykar itu karena didepanku semua laki-laki arab. Hanya ada satu wanita arab didekatku yang berani menyusup kedalam kerumunan para lelaki itu. Aku mengikutinya sambil menggandeng adekku yang berjalan dibelakang. Ketika hampir mendekati kerumunan terdepan, tiba-tiba saja kami bertiga dipersilakan lewat. Semua lelaki arab itu minggir. Aku heran. Segitunya banget mereka menghormati perempuan. Gak taunya apa coba? Para asykar itu yang mengizinkan kami masuk. Padahal harusnya sih para asykar itu gak ngeliat kami karena kami ketutupan lelaki besarbesar gitu. Setelah kami bertiga masuk, pintu kembali ditutup. Loh loh aku bingung jadinya kenapa kami bertiga boleh masuk sedangkan yang lain masih ditahan. Tapi aku gak bisa berbuat banyak karna gak bisa ngomong basa arab. Wanita arab yang kuikuti sedari tadi pun sudah pergi entah kemana. Pokoknya Alhamdulillah bangeettt. Aku dan adik langsung buru-buru jalan memasuki masjid karna takut diusir keluar lagi hehe

Ternyata oh ternyata, rintangan gak berhenti sampai disitu. Dari mulai memasuki halaman masjid kami mulai berdesakan kembali untuk bisa sampai ke dalam. Betul-betul gak tau lagi desakan macam apa yang terjadi. Yang aku ingat, aku gak boleh terlepas dari adikku. Kami hampir jatuh berkali-kali. Dan ditengah-tengah desakan itu, masih saja banyak lelaki arab yang menegur lelaki arab lainnya. Bukan berantem, teguran itu teguran sayang diantara mereka. Mereka saling memperingatkan kira-kira artinya mungkin gini, “Hei hati-hati, ini wanita. Gak bisa ngalah sedikit ya? Jaga kehormatannya”. Aku betul-betul tersanjung masih ada yang mikir gitu ditengah suasana yang udah malang melintang gitu 😀

Akhirnya alhamdulillah aku dan adikku sampai didalam masjid meskipun kami hanya dapat tempat di basement. Jangan dikiria basement ini kayak tempat parkir yak. Basementnya di masjidil haram ya tempat sholat juga, ada ACnya, lantainya marmer, ada spot air zam-zam juga. Dan ternyata di dalam masjid semuanya damai sentausa. Gak ada keributan apalagi desak desakan. Bahkan di basement ini cenderung masih banyak tempat buat jamaah. Alhamdulillah ala kulli haal. Akhirnya aku dan adik bisa i’tikaf.

Tepat pukul 1 dinihari, di malam 27 ramadhan sholat tahajud dipimpin oleh Grand imam masjidil haram, Syaikh As-Sudais. Kami semua terhanyut dalam lantunan yang sangat menyentuh relung-relung hati. Rasanya air mata udah gak bisa diajak kompromi, ngalir terus tiap rakaat sholat. Puncaknya adalah doa qunut pada sholat witir. Disini qunutnya gak tanggung-tanggung. 10 malam terakhir, qunut di sholat witir itu sekitar 30 menit. Itu baru doa qunutnya doang. Nah tangisan jamaah makin menjadi jadi saat qunut ini. Kayaknya gak ada yang gak nangis. Semua nangis kejer. Suara tangis sahut menyahut. Memohon pada Allah ampunan dan pertolongan. Kami semua larut dalam kesyahduan malam 27 ramadhan itu. Setelahnya, kuperhatikan orang-orang wajahnya pada sembab. Allah…..betapa banyak hambaMu yang khusyuk, yang taubat, yang mendekat kepadaMu. Semoga Engkau berkenan melirik hamba yang zholim ini.

***

Pagi hari saat kami akan kembali ke hotel, toko-toko sepanjang jalan udah nyetel kenceng-kenceng CD rekaman tahajud malam 27 ramadhan yang baru aja kami lalui. Ternyata bener kata jamaah lain yang udah pernah umroh ramadhan, “abis malam 27 bakal langsung rilis CDnya di pagi hari”. Luar biasa. Aku sempet beli, kalo mau pinjem boleh banget. Mungkin di yutup jugak ada sih 😀

“Sentilan” Mak Mica Sepanjang Umroh

“Mak Mica ilang!”
Seisi lantai 2 hotel Madinah Al Mubarok yang mayoritas isinya adalah rombongan kami menjadi geger karna informasi itu. Malam itu selepas sholat maghrib dan buka puasa di Masid Nabawi , kami kembali ke hotel untuk makan malam. Kemudian mendapati berita mengejutkan tersebut. Gimana gak panik? Mak Mica yang jadi perbincangan itu adalah wanita sepuh berusia 82 tahun. Ini Madinah, bukan Indonesia. Mata beliau sudah tidak jelas melihat. Sejak shubuh sampai buka puasa ini dia belum juga kembali ke hotel.

“Emangnya tadi shubuh Mak Mica berangkat ke Masjid sama siapa, Ustadz?” pertanyaan itu membrondong mutowwif kami.

“Sama Mbak Vino. Tapi handphonenya gak bisa dihubungi dari tadi. Insya Allah gak ada apa-apa. Vino kan masih muda. Insya Allah inget jalan balik ke hotel. Kita tunggu dulu aja. Doain.” Mutowwif kami berusaha menenangkan.

Ya. Shubuh itu Mak Mica berangkat ke Masjid bersama Mbak Vino. Memang belakangan aku jarang bersama Mak Mica karna beliau sering diajak bareng oleh Mbak Vino karena kamar mereka berdekatan. Mbak Vino baik sekali. Semoga mereka baik-baik aja. Kalau terjadi apa-apa dengan Mak Mica, sepertinya aku tak bisa memaafkan diriku.

***

Berita ilangnya Mak Mica mengingatkan aku pada suatu siang saat manasik umroh. Mak Mica datang manasik agak telat bersama anak laki-laki dan istri anaknya itu. Kemudian Mak Mica duduk disampingku. Disebelahnya beliau ada istri dari anaknya. Tiba-tiba saja ibu tersebut berbisik kepadaku,

“Nitip emak yak. Tolong jagain dan dampingin emak selama disana. Ibu gak ikut soalnya. Emak cuma sama Bapak (red: suaminya alias anak laki-laki Mak Mica).”

Aku gelagapan. Gak tau mau jawab apa kecuali hanya tersenyum, mengangguk dan berucap “Iya, Insya Allah, Bu.”

Rasanya ada beban amanah yang berat kurasakan. Aku bahkan sempat membatin “aku juga harus jagain orang tuaku sendiri. Apa sanggup yah jagain Mak Mica juga? Gimana ya ibadahku nanti? Kira-kira bisa tenang gak yah?” Jahat banget ya aku?

Sepulang dari manasik itu aku cerita di mobil kepada keluarga. Kemudian Papa mengatakan sesuatu yang membuatku malu,
“Haha insya Allah bisa. Niatin ibadah aja. Lagipula jangan salah loh. Disini mungkin Mak Mica keliatan lemah, bisa jadi nanti pas disana malah kuatan dia dari pada kita. Allah Maha Kuasa.”

Astaghfirullah, aku buru-buru istighfar atas kegentaran dan kejahatan hatiku.

***

Saat sahur bersama di hotel, aku melihat Mak Mica. “Alhamdulillah!” pekikku dalam hati.
“Mak Mica dari mana? Itu kenapa pipinya diperban?” tanyaku sambil mbrebes mili di hati.

Kemudian Mak Mica menjelaskan, “Kemaren di masjid seharian. Ini Emak jatoh di kamar mandi hotel semalem, jatoh dari WC”

Aku langsung membelalak, “Astaghfirullah kok bisa? Sakit ya Mak?” *pertanyaan macam apa ini.

“Sakit” Jawaban Mak Mica yang singkat itu kontan membuat air mataku hampir terbit tapi kutahan kuat-kuat.
“Ya Allah, Mak Mica hati-hati ya..”

Makan sahur itu rasanya agak pahit kutelan. Bukan, bukan karna makanannya gak enak. Tapi semacam ada getir di tenggorokanku membayangkan sakitnya Mak Mica. Nenek 82 tahun, jatuh dari WC yang membuat pipinya robek, berdarah terus-terusan, dalam kondisi puasa, di negeri orang,dan masih mau mengikuti rangkaian ibadah dan acara yang sudah dirancang. Ya Rahman…angkat rasa sakitnya, kumohon.

Seusai sahur, kami bersama-sama menuju Masjid Nabawi lagi untuk sholat tahajud dan Shubuh. Ku gandeng Mak Mica. Aku harus memastikan Mak Mica terjaga dengan baik sejak sekarang. Aku betul-betul merasa bersalah, kalau tidak bisa dikatakan terpukul. Pada sepertiga malam terakhir itu, aku menangis sejadi-jadinya di Masjid Nabawi, di hadapan Allah, di dekat makam Rasulullah SAW, disamping Mak Mica. Air mataku rasanya gak mau berhenti.

Aku malu Ya Allah! Aku malu padaMu karna tak menjaga amanahMu dengan baik. Aku malu kepada engkau Ya Rasulullah…aku malu padamu ya Abu Bakar…aku malu padamu ya Umar! Malu, sangat malu. Bagaimana bisa Mak Mica terluka, dan aku tidak malu?? Sedangkan engkau ya Habib Allah, engkau begitu santun merawat nenek tua yang menghinamu. Sedangkan engkau ya Abu Bakar, engkau begitu telaten merawat nenek tua diujung kota Madinah setiap hari tanpa diketahui siapapun. Sedangkan engkau ya Umar, engkau keliling kota ini tiap malam untuk menjamin kesejahteraan rakyatmu. Maaaluuu aku!

Cukup lama aku terbenam dalam sujud sambil menangis sampai puas.

***

Hari-hari berikutnya Mak Mica mengikuti semua rangkaian acara umroh dan selalu ke Masjidil Haram tiap sholat fardhu, sholat tarawih dan tahajud, meskipun pipi Mak Mica masih diperban dan sesekali darahnya “beleber” ke mukenanya yang membuat ngilu ngebayanginnya. Saat umroh perdana kami, Papaku berdecak kagum pada Mak Mica.

“Masya Allah, luar biasa Mak Mica kuat banget ya. Pas Sa’I tadi bapak dilewatin sama Mak Mica. Cepetan dia jalannya dari pada bapak.”

Iya betul. Selama di tanah suci Mak Mica kalo jalan cepet banget. Padahal beliau sudah agak bungkuk dan waktu masih ditanah air bahkan jalannya digandeng sama menantunya.

Pernah juga suatu malam habis sholat tarawih aku pulang dari Masjidil Haram sendirian ke hotel. Dekat hotel kami ada yang jualan eskrim gitu, dari arah berlawanan aku lihat Mak Mica dan anaknya sedang menuju tempat penjual eskrim itu. Jalanan sedang padat-padatnya karena tarawih baru saja bubar, termasuk di depan penjual eskrim tersebut. Jadi kuputuskan tidak memanggil Mak Mica. Dalem hati aku ngomong “Gapapa deh gak usah manggil, khawatir gak kedengeran jugak lagi rame gini. Kayaknya Mak Mica dan Pak Mian juga gak ngeliat aku.” Udah aja aku lewat pura-pura gak liat.

Tiba-tiba aja, “Heh!” Mak Mica memukul tanganku sambil nyengir disampingku. Subhanallah, aku kaget, dan malu. Disebelah Mak Mica ada Pak Mian, anaknya, yang juga kaget karna melihat aku. Bodoh banget ya aku pura-pura gak ngeliat segala dan mengganggap Mak Mica gak ngeliat aku. Duh ampun, tuh Allah nunjukin din kalo mata Mak Mica masih bisa ngeliat jelas dan masih mau menyapa ditengah hiruk pikuk sepulang tarawih itu. Iya iya, aku malu hehe.

Selama kami bersama di tanah suci, Mak Mica gak pernah sakit kecuali pipi robek karna jatuh dari WC itu. Itu pun tanpa mengeluh dan tetap menjalankan ibadah seperti biasa. Padahal beberapa jamaah termasuk aku, bapakku dan mutowwif kami sempat kena flu berat disana. Mak Mica gak kena flu lho. Kita yang sering pake masker justru kena flu, Mak Mica kaga pernah make masker malah gak kena flu. Hehe Masya Allah.

Hingga kepulangan ke tanah air pun aku masih saja terkagum-kagum pada kuatnya fisik Mak Mica. Bayangpun, Mak Mica menggendong tas ransel saat kepulangan kami ke tanah air. Ia membantu anaknya yang sudah membawa tiga tas. Kata adik saya yang sempet ngangkat tas ransel Mak Mica itu, “ih kuat banget Mak Mica, itu berat tau teh tadi gue cobain”.

Ketika detik-detik perpisahan kami pun, aku dibuatnya haru, “Maen yak ke rumah emak di Cibubur. jangan lupa ya sama emak. Maen-maen ke rumah”

Ya Allah, gimana aku bisa lupa dengan segala tanda-tanda kebesaran-Mu yang Engkau tunjukkan melalui Mak Mica. Semoga aku berkesempatan silaturahim lagi dengan Mak Mica ya 🙂

Mak Mica (kanan) dan Anaknya alias Pak Mian (kiri)

Mak Mica (kanan) dan Anaknya alias Pak Mian (kiri)