Quote #2

DSC_0858

โ€œRabbi inni lima anzalta ilayya min khairin faqiir.
Duhai Rabbi; Penciptaku, Penguasaku, Penjamin rizqiku, Pemeliharaku, Pengatur urusanku; sungguh aku, terhadap apa yang Kau turunkan di antara kebaikan, amat memerlukan.โ€
(Doa Nabi Musa a.s.)

Sumber: http://salimafillah.com/kebaikan-di-tanganmu-yang-maha-tahu/

Advertisements

Hujan di Masjidil Haram

Hari ini Indonesia merayakan hari raya Idul Adha 1435 H. Ehya, happy Eid Mubarak yahhh ๐Ÿ™‚ semoga kita semakin taat dan terhormat ๐Ÿ˜€

Tadi aku liat timeline twitter, terus ada salah satu surat kabar yang memberitakan bahwa hari ini, 5 Oktober 2014, Makkah diguyur hujan cukup deras selama 10 menit. Ini dia beritanya:

http://m.republika.co.id/berita/jurnal-haji/berita-jurnal-haji/14/10/05/ncz8cw-makkah-diguyur-hujan-agak-deras

Aha! Aku langsung inget PR-ku. PR yang ku tugaskan untuk diriku sendiri hehe aku janji pengen cerita di blog ini tentang pengalaman merasakan hujan saat di Masjidil Haram pada jelang malam 29 Ramadhan tahun ini. Oke, mari ku tunaikan ceritanya ya :’)

***

Pagi itu, 28 Ramadhan 1435 H, aku keluar dari Masjidil Haram sendirian sekitar pukul 6 setelah menunaikan sholat shubuh, dzikir dan tilawah. Saat keluar pintu masjid, udara sejuk khas pagi hari menerpaku. Sejuk sekali. Kemudian akuย  terus berjalan ke arah halaman masjid. Dan aku dibuat takjub dengan fenomena pagi itu. Udaranya tidak panas dan tidak dingin. Ku alihkan pandangan ke langit. MasyaAllah! Mendung! Langit Makkah penuh dengan awan putih, penuh sekali.
Kenapa aku kaget? Ini untuk pertama kalinya sejak aku ada di Makkah, sejak 21 Ramadhan lalu, akhirnya aku melihat awan di langit kota ini. Hari-hari kemarin aku terheran-heran mengapa kota ini langitnya sangat bersih, biru, dan sama sekali tidak ada awan. Sehingga terik matahari selalu menyengat. Suhu hariannya sekitar 43 derajat celcius. Jadi wajar jika aku takjub melihat langit pagi itu dipenuhi awan putih. Betul-betul penuh. Tapi anehnya, suasananya bukan seperti mau hujan. Yang terasa hanyalah kesejukan dan kedamaian.

Keluar dari halaman masjid, seperti biasa, puluhan burung merpati ramai-ramai pada “melantai” di aspal depan kerajaan Arab Saudi. Mereka berjalan-jalan, terbang rendah dan menyambut kami yang keluar masuk masjidil haram. Ini menambah romantis suasana.

Aku langsung teringat salah satu ciri hadirnya malam lailatul qadr: pagi harinya langit mendung dan udara sejuk. Wallahu’alam. Semoga Allah karuniakan kepada kita pahala yang nilainya setara ibadah 1000 bulan tersebut. Aamiin!

Sekitar jam 10 pagi setelah bebersih di hotel, aku kembali lagi ke masjidil haram sendirian. Keluargaku masih pada istirahat di hotel. Hari itu aku berniat thawaf sunnah sendirian. Sesampainya di masjidil haram, aku sholat sunnah berbagai rupa dan tilawah di lantai 2 dekat tempat sa’i. Baru sekitar jam 11 siang aku turun ke bawah, menuju ka’bah. Siang hari seperti itu biasanya yang thawaf tidak begitu ramai karena sedang panas-panasnya. Thawaf siang itu khusus aku dedikasikan untuk memuji memuja Allah. Kenapa aku sampai memperjelas begini tujuan thawafku? Karena ada saat-saat dimana thawaf bisa juga kita lakukan untuk meminta kepada Allah. Meminta apa saja, untuk dunia, untuk akhirat. Kali ini, aku khususkan thawafku sepenuhnya untuk memuji memuja Rabbku, dan tentu Rabbmu juga ya hehe. Aku sengaja membuat jadwal yang kurancang sendiri, tentang kapan aku ingin thawaf bertaubat, kapan thawaf meminta, kapan thawaf yang khusus untuk memuji dan memuja Allah semata.

Siang itu ku tatap langit sambil mulai mengitari ka’bah. Bersih. Aneh ya? Padahal pagi tadi baru saja langit penuh dengan awan putih. Subhanallah. Matahari betul-betul menyorot langsung kepada orang-orang yang sedang thawaf siang itu. Namun semua jamaah tak gentar dan tetap khusyuk larut dalam dzikirnya masing-masing. Aku thawaf sambil sering-sering memandang ka’bah yang elegan itu karna sekedar memandangnya saja katanya berpahala dan dirahmati Allah. Nikmat sekali rasanya ketika kita bisa beribadah tanpa punya agenda selain memuji memuja Allah semata. Air mata tanpa terasa mengalir karna kenikmatan itu.

Ka'bah Al Musyarofah

Ka’bah Al Musyarofah

Selesai thawaf tujuh putaran, aku sholat sunnah thawaf persis di belakang maqom Ibrahim. Masya Allah, sungguh kenikmatan tiada tara bisa bermunajat di tempat istimewa itu dan berhadapan langsung dengan ka’bah. Air mataku deras mengalir. Aku rasanya masih ingin berlamalama disitu kalau saja bukan karena para asykar yang sudah menghalau para wanita agar pindah ke tempat sholat khusus wanita sebab waktu zuhur segera tiba. Seusai sholat zuhur dan tilawah, aku merasa sangat ngantuk. Akhirnya kuputuskan kembali ke hotel untuk istirahat.

***

Ketika waktu ashar, aku kembali ke masjidil haram sendirian. Mama papaku sudah duluan keluar sejak dzuhur tadi karena mereka hendak umroh sunnah berduaan. Uhuk. Sedangkan adikku sedang berhalangan sholat. Aku berniat mengisi waktu dengan tilawah sambil menunggu waktu berbuka. Nah ini! Aku sukak banget buka puasa di masjidil haram. Jamaah travel yang bareng denganku termasuk keluargaku biasanya lebih memilih buka di hotel karena memang disediakan buka bersama. Namun aku merasa sayang melewatkan momentum mustajabnya doa ketika berbuka puasa jika tidak di masjidil haram sehingga aku sering ifthor ke masjid sendirian. Lagi pula, seru banget loh ifthor jamai bareng jamaah lainnya dari berbagai penjuru dunia ๐Ÿ™‚

Sambil menunggu berbuka puasa sore itu kuhabiskan waktu dengan tilawah. Sengaja aku mengambil tempat di dekat ka’bah. Kalau sedang sendirian seperti itu, aku memang sebisa mungkin mencari tempat yang dapat melihat ka’bah secara langsung dan dekat. Sore hari itu ku rasakan sangat payah. Haus banget sampe lemes rasanya. Mungkin aku dehidrasi. Ketika aku mulai gak kuat tilawah, aku memperhatikan sekitarku, mengamati segala macam tingkah laku dan ekspresi ibadah orang-orang dari berbagai macam negara. Menyenangkan sekali! Selain itu, saling sapa dengan orang di kanan kiriku dengan bahasa “tarzan” juga bagian hal menyenangkan lainnya. Cukup membuatku lupa pada kepayahan puasaku sore itu.

Lima belas menit menjelang buka puasa biasanya hampir semua jamaah di masjidil haram khusyuk berdoa sendiri-sendiri. Aku pun terbawa kebiasaan baik itu. Padahal kalo di indonesia, detik detik mau buka puasa biasanya ribet ngurusin makanan hehe bukannya berdoa. Di tengah khusyuknya doa masing-masing itu, adekku sms. Dia minta aku balik ke hotel karna ketakutan sendirian di kamar. Katanya suara geluduk besar sekali sampai tv di kamar mati. Di luar pun mendung banget katanya. Aku bimbang. Ku putuskan tetap di tempat sampai selesai maghrib. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba saja orang-orang didepan yang paling dekat dengan tempat thawaf pada berdiri. Sambil takbir dan mengangkat tangan tinggi-tinggi. Berdoa. Bertasbih. Bertahmid. Bertahlil. Bertakbir. Aku heran dengan keramaian yang tiba-tiba itu. Beberapa saat kemudian aku mendengar suara hujan dan geluduk. MASYA ALLAH, HUJAN!

Serta merta aku turut berdiri. Hampir semua jamaah berdiri, mengangkat tangan tinggi-tinggi, merapal doa bertubi-tubi. Seolah tak mau menyiakan berlapislapis kesempatan mustajabnya doa. Empat lapis momen keberkahan dan mustajab doa sekaligus: Di Masjidil Haram, bulan Ramadhan, ketika jelang buka puasa, di saat hujan mendera. Masya Allah, air mataku tak bisa kutahan. Betul-betul fenomena yang menggetarkan. Hampir sepuluh hari aku di kota ini diterpa panas siang bahkan malam. Sore itu hujan turun. Baarakallah yaa tanah haram! Berlapis-lapis keberkahan bagimu dan bagi yang berdoa saat itu. Masya Allah.

Habis sholat maghrib aku kembali ke hotel. Janji dengan adiku yang ketakutan sendirian hihi. Jalanan malam itu antara masjidil haram ke hotel tak seperti biasanya. Hujan sudah reda sejak sholat maghrib tadi. Namun bekas-bekas hujan masih jelas terlihat. Jalanan aspal basah oleh air, hal yang gak pernah kulihat sebelumnya. Udara dingin menerpa wajahku, padahal biasanya malam hari kadang masih terasa panas. Dan yang lebih amazing lagi adalah: bau hujan! Ku hirup udara dalam-dalam. Perpaduan yang lengkap untuk mengingatkanku pada kampung halaman. Betul-betul feels at home.

Aku tiba lebih dulu dari orangtuaku. Sesampainya mereka di kamar, kami heboh membicarakan fenomena hujan tadi. Ternyata ketika hujan turun petang tadi, orang tuaku sedang thawaf. Mereka merasakan langsung basahnya air hujan yang turun. Mamaku cerita, katanya tadi ada awan tebal yang tiba-tiba datang ke atas ka’bah. Kemudian orang-orang yang sedang thawaf langsung bertakbir. Tak lama kemudian hujan turun. Allahu Akbar!

28 Ramadhan 1435 H betul-betul hari yang penuh dengan kejutan! :’)

Arafah Yang Dirindu

Mestinya tulisan ini ingin kujadikan penutup dari cerita perjalanan umrohku. Tapi nampaknya hari Arafah berhasil membuat rinduku pada tanah suci semakin menjadi.

Hari ini jamaah haji lagi pada wukuf di Arafah. Semua timeline pesbuk dan twitter isinya seputar hari Arafah. Sudah 26 tahun hari Arafah kulalui dalam hidup, rasanya baru hari ini aku ingin sekali ikutan wukuf. Ingin sekali. Ingin sekali. Ingin sekali.

Sebelumnya ku pikir tidak ada tempat di dunia ini yang lebih aku cintai dari pada tanah airku. Ternyata aku salah. Kalau ada tempat yang bisa mengalahkan rasa cintaku pada tanah air, maka ia adalah tanah suci. Aku cinta, aku rindu, aku bahkan ingin terus ada didalamnya.

Aku mau cerita sesuatu tapi malu, tapi mau hehe. Ketika akan berangkat umroh ramadhan kemarin sebenernya aku merasa belum siap. Dan cenderung banyak ketakutan di dalam hatiku. Aku gak tau kenapa Allah mau mengundangku ke rumahNya, sedangkan aku adalah hambaNya yang gak tau diri. Aku bahkan baru belajar sungguh-sungguh tentang umroh sekitar 2 minggu menjelang keberangkatan.

Aku panik. Belum banyak berbekal untuk perjalanan spiritual ini.
Aku takut. Takut dengan cerita-cerita “pembalasan” kontan di tanah suci.
Aku malu. Merasa belum pantas untuk ada ditanah suci.

Aku hanya sekedar hamba Allah yang bahkan hampir gak pernah meminta dalam doa sehari-hari untuk diundang ke tanah suci. Ini mungkin karna kurangnya ilmuku, juga imanku. Aku masih merasa tanah suci itu adalah hal yang jauh, mahal, dan mustahil. Sehingga menyebabkan aku gak terlalu banyak tau dan mencoba mencari tau tentangnya. Pelajaran agama selama aku sekolah alhamdulillah selalu bagus, tapi bab haji dan umroh bagiku selalu bagai pelajaran yang absurd. Yang tak berani dan tak jua ku pelajari dengan serius.

Beberapa hari sebelum keberangkatan umroh, aku ditanya oleh kawan yang sudah pernah umroh, “Gimana perasaanmu yang sebentar lagi bakal itikaf di tanah suci?” Eh aku lupa sih redaksinya. Kira-kira gitulah. Aku terkesiap dengan pertanyaan itu. Dan akhirnya jujur kujawab, “Aku takut. Aku belom siap. Aku gak tau kenapa Allah ngundang aku. Rasanya aku belom pantes nih T_T Aku takut kayak cerita-cerita orang yang dibalas segala perbuatannya nanti di tanah suci. Aku banyak dosa. Aku takut pokoknya.”

Jawaban kawanku ini sungguh diluar dugaanku. “Jangan takut. Aku yakin tiap orang yang ke tanah suci itu semata-mata karna Allah yang ngundang. Kamu diundang langsung sama Allah. Jadi jangan takut. Berperilakulah sebagaimana tamu. Menjadi tamu yang manis, nikmati jamuannya. Karna jamuan ini langsung dari Allah. Pasti bikin seneng. Tenang aja.” DEG! Jawaban itu betul-betul langsung mendarat di dasar hatiku yang terdalam. Dalem banget. Dan sangat menyentuh. Kemudian ku insyafi segalanya…aku rapikan lagi niat, ilmu dan segala persiapan. Aku bertekad harus jadi tamu yang manis dihadapan Allah :’)

Benar kata kawanku. Dia-lah Allah, Tuan Rumah yang Maha Santun pada setiap tamuNya. Alhamdulillah segala ketakutanku tak terbukti selama berada disana. Justru kenikmatan tiada tara lah yang Allah suguhkan bertubitubi bagi para tamuNya.

Tengah Hari di Halaman Masjidil Haram. Silau men :D

Tengah Hari di Halaman Masjidil Haram. Silau men ๐Ÿ˜€

Kadang kebahagiaan yang terlalu, bisa membuat kita menangis haru. Dan itulah yang kurasakan sepanjang di tanah suci. Nikmat yang amat nikmat. Kenikmatan dekat dengan Allah. Kenikmatan bisa menangis. Kenikmatan bisa beribadah. Kenikmatan berislam. Kenikmatan manisnya iman. Kenikmatan bisa bertaubat. Kenikmatan yang sulit sekali kugambarkan dengan kata-kata. Kata apa yang lebih dahsyat tingkatannya dari “nikmat”? Itulah yang kurasakan. Lebih dari sekedar nikmat.

Aku sangat terkesan dengan tulisan Ust. Salim A. Fillah yang kubaca sepulang umroh, “Takkan terasa manisnya kehambaan, hingga kita merasa bahwa bermesra pada Allah dalam doa itulah yang lebih penting dari pengabulannya.”

Iya benar. Alhamdulillah, Allah memberiku kesempatan merasakan hal itu. Merasakan nikmatnya menjadi hamba. Terasa manis sekali rasanya didalam hati manakala sholat di masjid nabawi dan masjidil haram. Aku menangis tiap sholat karna saking nikmatnya. Masya Allah. Kalau tiba-tiba aku sulit menangis, aku memohon pada Allah. Aku ingin menangis Rabb, dan Allah menjawabnya dengan kontan melembutkan hatiku, kemudian aku bisa menangis. Itu rasanya lebih nikmat dari pada pengabulan segala munajatku yang lain. Karna hal yang paling menyiksa saat umroh atau haji barangkali adalah ketika kita gak bisa nangis saat beribadah kepada Allah. Percaya deh. Udah percaya aja. Hehe.

Pernah suatu malam saat sholat tarawih di masjidil haram, aku nangis gak berenti-berenti dari awal mulai sholat sampai selesai, 20 rakaat. Itu rasanya lebih nikmat dari segala macam kenikmatan duniawi manapun. Sampai ibu-ibu disebelahku yang kebetulan orang Indonesia bertanya, “saya perhatiin dari tadi mbak nangis terus, lagi inget siapa?” Pertama aku malu karna ketauan nangis, emang bakal ketauan sih pasti karna aku tarik ingus terus hehe. Kedua aku bingung ama pertanyaannya, kenapa mesti “lagi inget siapa?” Emang harusnya inget siapa yak selain Allah hehe. Akhirnya ku jawab pendek sambil nyengir, “inget dosa, bu ๐Ÿ˜€ ”

Aku ceritain ini semata-mata ingin menyiarkan kenikmatan yang Allah karuniakan. Bahwasanya manisnya iman dan nikmatnya ibadah bahkan sekedar menangis pun bisa kita minta, kalau kita mau meminta. Sayangnya deretan doa-doa harian kita lebih banyak meminta dunia. Padahal meminta pada Allah manisnya iman dan nikmatnya ibadah barangkali adalah doa yang semestinya lebih banyak kita minta.

Segala kenikmatan jamuan Allah di tanah suci itulah yang membuat rindu ingin kembali kesana. Dan aku baru paham kenapa ada orang yang umroh dan haji berkali-kali. Karna ibadah disana macam candu. Memikat sekali. Membuat ketagihan. Bagaimana gak memikat sedangkan tuan rumahnya adalah Allah, tempat bertamunya adalah rumah Allah, dan jamuannya langsung dari Allah. Masya Allah. Semoga Allah berkenan mengundang kita semua untuk berhaji, bisa wukuf di Arafah, minimal satu kali selama hidup kita. Karna haji adalah Arafah.

Sepenggal Padang Arafah Dilihat dari Jabal Rahmah

Sepenggal Padang Arafah Dilihat dari Jabal Rahmah

Ibunda Aisyah Radhiyallahu anhuma meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda :

ู…ูŽุง ู…ูู†ู’ ูŠูŽูˆู’ู…ู ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูŽ ู…ูู†ู’ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุนู’ุชูู‚ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูููŠู‡ู ุนูŽุจู’ุฏู‹ุง ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู ู…ูู†ู’ ูŠูŽูˆู’ู…ู ุนูŽุฑูŽููŽุฉูŽุŒ ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽูŠูŽุฏู’ู†ููˆ ุซูู…ู‘ูŽ ูŠูุจูŽุงู‡ูู‰ ุจูู‡ูู…ู ุงู„ู’ู…ูŽู„ุงูŽุฆููƒูŽุฉูŽ ููŽูŠูŽู‚ููˆู„ู: ู…ูŽุง ุฃูŽุฑูŽุงุฏูŽ ู‡ูŽุคูู„ุงูŽุกู ุŸ

Tidak ada hari di mana Allรขh Azza wa Jalla membebaskan hamba dari neraka lebih banyak daripada hari Arafah, dan sungguh Dia mendekat lalu membanggakan mereka di depan para malaikat dan berkata: Apa yang mereka inginkan?” [HR. Muslim no. 1348]

Jabal Rahmah, di Padang Arafah

Jabal Rahmah, di Padang Arafah

Masya Allah. Tidak kah kita cemburu? Tidak kah kita ingin juga ada disana? :’)