Wiken

Kadang kalo udah kebanyakan jalan-jalan, lelah kerja rodi, mumet pertugasan kuliah, dan ketemu banyak orang terus-terusan, semacam ada kebutuhan untuk me time saat wiken tiba. Di rumah aja cukup. Sekedar baca buku seharian (bukan buku pelajaranlah ya hehe), polpolin ibadah sunnah yang kadang suka kelewat pas wikdey, nyoba-nyoba masak (tapi ini jarang–banget), nonton sekian film dilaptop dari pagi sampe malem (tentu diluar kewajiban harian ala rumah tangga–macem udah rumah tangga aje haha–dan ibadah), atau diselingi boci alias bobok ciang dan leyeh-leyeh. Buat saya nyalon (ke salon) dan nonton bioskop sendiri itu bukan me time hehe, soalnya ketemu banyak orang. Walaupun suka saya lakuin juga…

Nah.
Ada saatnya me time itu bikin lelah jugak, jadi ga perlu seringsering me-time-nya. Roda kehidupan harus berputar macem siklus, balik lagi. Butuh kontribusi, butuh berbagi, butuh asupan (otak, hati, jasad), dst. Kalo udah lama gak ketemu sahabat, saudara, saya juga suka ngerasa ada yang “kosong”. Dan akhirnya, sekedar dateng ke rumah sodara, kulineran, nyalon, nonton bioskop, dan jalan-jalan atau ikut pengajian bareng tementemen semacam jadi keperluan untuk mengisi hati yang “kosong” itu #halah #apeu. Maksudnya untuk menyambung tali silaturahmi sekaligus mengasup nutrisi 😛

Dipikir-pikir, banyak siasia yah hidup saya…T_T
Kalo ada info-info kegiatan sosial, bole dong kakaaaak ajakajak saya..biar saya lumayan berguna gitu…makasi sebelumnya 🙂 Salam.
*kayak ada yang baca aja blognya haha

Advertisements

Diterpa Pesona Kesholihan

Setelah tapping kartu langganan kereta, kami berjalan memasuki stasiun menuju peron. Baru beberapa langkah berjalan, aku lihat dikejauhan seorang wanita berjilbab keluar dari sebuah toko didalam stasiun sambil menggendong balita. Entah energi apa yang membuat mataku terpaku memperhatikannya. Ia mengingatkanku kepada seorang teman.

Tak lama kemudian, seorang pria berjalan dibelakangnya, keluar dari toko yang sama. Refleks mataku menghindari pasangan itu. Eh ada suaminya, batinku. Tapi bayangan pasangan tadi masih melekat beberapa saat di pelupuk mataku. Kayaknya aku kenal deh sama suaminya. Aku alihkan lagi pandanganku ke arah mereka. Kalau mataku ini lensa kamera, aku mulai membidikan fokus lensa ke arah suaminya.

“Itu Kak X kan ya?” aku senggol sahabat disebelahku.

“Mana?” Mata sahabatku mencari-cari orang yang kumaksud.

Beberapa saat kami berdua berdiri mematung memperhatikan lelaki itu dengan seksama. Tak berselang lama, orang yang kami perhatikan menoleh tak sengaja ke arah kami. Ia sepertinya merasa diperhatikan dan ikut tersadar seolah mengenali kami juga. Jarak antara kami dan pria itu sekitar 150 meter, itulah sebabnya kejadian saling “memastikan” berlangsung agak lama. Aha! bener. Aku dan sahabatku tiba-tiba saja terdorong menghampiri keluarga kecil tersebut. Senyum sumringah khas dari senior kami saat dikampus ini menyambut kami. Ia memperkenalkan (lagi) istri dan anaknya kepada kami. Aku dan sahabatku memeluk wanita itu bergantian dan tak lupa dengan cupika cupiki kemudian menjawil pipi putrinya.

Obrolan pun mengalir sangat santai namun penuh antusias. Kami antusias, beliau pun menyambut kami dengan antusias. Jarang kutemui momen seperti ini. Biasanya kalau tiba-tiba ketemu orang yang dikenal, aku sering kikuk, gak tau mau ngobrol apa, jadi seringnya justru sekedar basa basi. Tapi dengan senior satu ini, entah ada apa sore itu, seperti ada yang menarik ujung-ujung bibirku hingga terus tersenyum sepanjang obrolan, hatiku disergap perasaan bahagia entah dari mana. Kupandangi pasangan ini dan anaknya secara bergantian sepanjang obrolan. Masya Allah…aku merasa disapu oleh ketenangan, kebahagiaan, ah aku gak tau lagi apa namanya. Pasangan ini sungguh membuatku tertegun. Aku seperti menyerap energi luar biasa dari apa yang kupandangi ini.

Ingatanku melayang….

Sebetulnya aku tidak begitu akrab dengan senior ini. Selain karena dia laki-laki (aku jarang akrab dengan laki-laki soalnya :D), beliau juga senior yang pernah menjabat Ketua Lembaga Islam di Fakultas kami. Jadi yang ada hanyalah segan dan hormat. Sejak awal mengenalnya, beliau memang sosok yang santun dan berwibawa. Seingatku, hampir tak pernah kupergoki beliau dalam keadaan yang tidak baik. Penampilannya selalu prima dan memesona semua civitas di kampus kayaknya. Selain karena wajahnya yang komersial, (fyi, kalau liat beliau, aku inget Baim Wong hehe), pribadinya memang dikenal sholeh dan kesholehannya memancar begitu saja. Tanpa dibuat-buat. Hehe mungkin aku aja kali yang berlebihan karena belom kenal dekat juga. Tapi setidaknya, itulah yang kutangkap.

Setelah lulus dari kampus, aku sempat bekerja di sebuah lembaga kemanusiaan dan menjadi staf dari senior yang satu ini. Kami satu tim dalam mengurusi sebuah kampung. Walaupun hanya sebentar saja aku bekerja di tempat itu, tapi lagi-lagi tak kutemui hal yang tidak baik padanya. Pernah disuatu siang ketika bincang-bincang santai bersama rekan-rekan di ruang kerja yang isinya adalah orang-orang yang satu almamater semua dengan kami, beliau diledekin karena melihat ke arah desktop komputer seorang rekan kerja wanita. Bukan komputernya yang salah, tapi karena di desktop itu, yang empunya komputer memasang foto dirinya dan sahabatnya yang juga satu almamater dengan kami. Sahabat rekan kerja wanita di dalam desktop itu memang cantik, berjilbab dan rebutan para lelaki dari yang abal-abal sampe yang sholeh di kampus kami. Kembang kampus isitilahnya hehe.

Kami meledeknya habis-habisan sampai terpingkal-pingkal. Tapi dengan santai saja dia berkata, “Saya gak ngeliatin itu kali..lagian dia bukan tipe saya, gak tertarik. Kalau saya emang mau mah udah saya samperin (red: lamar) ke rumahnya”. JRREEEENNGG. Seisi ruangan terpana, namun sejurus kemudian kembali terbahak-bahak, masih teguh meledeknya. Sedangkan aku berhenti karena terhenyak dengan jawabannya. Seriously? Orang sekeren Anda yang istilah kata mah wanita mana pulak sih yang nolak kalo dilamar ente, dengan enteng bilang gak tertarik sama wanita cantik pintar sholehah idaman semua pria itu?? Maap hadirin, saya emang suka lebay haha. Tapi beneran, kenyataan itu makin membuat saya menaruh hormat pada beliau.

Pernyataannya itu ternyata bukan omong kosong. Sekitar setahun setelah saya resign dari kantor itu, saya menerima undangan pernikahan beliau. Wow siapa calonnya? Kami para junior yang hobinya kepo tentang senior serta merta berselancar diinternet mencari tahu tentang sosok wanita calon istrinya. Anak kampus lain, gak kenal hehe *garuk-garuk kepala 😀 Tapi terlihat dari foto profilnya, wanita ini terkesan sholihah dan sederhana. Di hari penikahannya, aku dan kedua sahabatku datang dengan antusias. Haru dan bahagia saat melihat sepasang pengantin baru ini, MasyaAllah. Lagi-lagi aku dapati senior yang satu ini begitu berintegritas. Termasuk dalam memilih pasangan hidup. Pakaian pengantin wanitanya dibalut menutup aurat dengan jilbab yang syar’i 🙂

***

Obrolan singkat dan bermakna di stasiun sore itu terhenti saat kereta yang akan mereka tumpangi sudah tiba. Aku dan sahabatku melanjutkan kembali langkah kami sambil melambaikan tangan kearah keluarga kecil itu. Tanpa terasa bibirku ternyata masih menyunggingkan senyum tak lepas-lepas. Kulihat sahabatku juga. Kami kayak habis bertemu air ditengah padang pasir. Lega dan bahagia.

“Ih kok gw seneng banget ya abis ketemu Kak X, beda ya pesonanya orang sholeh. Bikin seneng gak abis-abis”, begitu celetukku spontan saat sudah di dalam kereta. Sahabatku pun mengiyakan, ternyata kami merasakan sensasi yang sama.

“Jadi kangen deh sama kakak-kakak yang lain, gak ada reuni Nu*an* apa ya?”, timpal sahabatku. Kemudian kami berbincang tak henti-henti mengenai sosok beliau selama ini yang kami kenal sampai merembet ke senior-senior yang lain apa kabar ya. Obrolan kami baru berhenti ketika sahabatku harus turun duluan dari kereta di stasiun tujuannya,

Aku yang sendirian di kereta petang itu (gak sendiri jugak sih, ada penumpang lain hehe), kemudian update status di Facebook:

“Ada orang-orang yang bertemu dengannya saja mampu membuat hati bergetar, menambah keingatan kita kepada indahnya keimanan. Ada orang-orang yang ketika melihatnya tak terasa air mata jatuh, rasa cinta pun menjalar. Haru yang tercipta dari pesona sosoknya yang memancarkan kebaikan luar biasa.” (Winda Al Rasyid)

Abis ketemu orang sholeh tu seneng banget yah. Gak tau kenapa. Padahal cuma ngobrol bentar, tapi aura kebaikannya merasuk ke jiwa..membekas berlama-lama..membuat bahagia. Bikin pengen senyum terus. Kayak gitu banget yah pesona orang yang deket sama Allah. MaasyaAllaah smile emoticon smile emoticon smile emoticon

feeling refreshed.

***

Senja itu mengajarkanku bahwa sungguh kesholihan itu bukan sesuatu yang bisa dibuat-buat, tidak bisa sekedar dilakukan sewaktu-waktu saja, dan pancarannya tak bisa ditahan oleh siapapun (kecuali Allah yang Maha Berkehendak). Kesholihan itu justru tampil sebagai sesuatu yang menyusup dengan halus, lembut, dan hampir sulit diuraikan komposisinya. Pesonanya memancar secara apa adanya, dan begitu saja. Sampai-sampai saya berpikir, orang-orang yang memiliki pesona itu adalah orang yang kesholihannya jujur kepada Rabbnya, hanya mengharapkan keridhaan-Nya, dan tentu hanya Rabbnya yang mampu mengenali hal itu. Kemudian Allah sendiri-lah yang menerangi dengan cahaya-Nya hingga ia tampil memiliki pesona orang-orang
sholih.
Wallahu’alam..sekedar hasil renungan 🙂