Hari Raya di Tanah Suci

Pada dini hari ketika itu adalah rekor tershubuh terpagiku berangkat untuk menunaikan ibadah sholat ‘idul fitri. Jam 03.30 waktu setempat, aku dan keluarga sudah duduk manis didalam masjid. Diawali dengan sholat qiyamul lail, disambung dengan sholat shubuh ketika sudah tiba waktunya, setelahnya takbir mulai menggema. Barulah sekitar jam 06.00 sholat ‘ied berjamaah itu didirikan. Di Masjidil haram.

“Malam Takbiran”
Kami berangkat sepagi itu karna masjidil haram tak pernah surut dari jama’ah. Bahkan saat malam “takbiran”.  Oh salah. Saat memasuki 1 syawal. Soalnya disana gak ada malam takbiran ๐Ÿ˜€ Juga karena muthowwif kami sudah mewanti-wanti bahwa sholat ‘iedul fitri akan sangat padat sekali dan panjangnya jamaah bisa sampai dikejauhan 10 km. Beliau mengatakan itu karna sudah sekitar 7 tahun berdomisili di Makkah dan mengalami sendiri sholat idul fitri di wilayah Ma’la namun bermakmum pada imam di masjidil haram, saking panjangnya jamaah sholat ‘ied ๐Ÿ˜€

Aku salah total waktu mengira “malam takbiran” akan membuat orang-orang surut dari masjidil haram dan berkumpul dengan keluarga mereka di rumahnya atau kerabatnya di hotel (bagi warga non-Saudi). Justru di akhir ramadhan dan memasuki bulan syawal itu, jamaah membludak tak ada bedanya dengan malam sebelumnya. Pusaran thawaf semakin memadat hingga pagi.

“Malam takbiran” disana bukan ditandai dengan takbiran seperti disini, melainkan dengan dentuman meriam sebanyak 3 kali dan atraksi cahaya di langit yang “ditembakkan” dari puncak Clock Tower yang berhadapan langsung dengan Masjidil haram. Sebetulnya orang-orang disana juga takbiran di malam itu, tapi sendiri-sendiri, karna aku mendengar dengungan takbir sepanjang jalan tiap melawati kerumunan manusia.

Seusai sholat isya berjamaah dan sudah tidak ada lagi sholat tarawih, para jamaah berhamburan keluar masjid, kemudian suara meriam berdentum-dentum, orang-orang memadati halaman dan jalan-jalan diluar sambil menatap ke langit penuh suka cita. Dilangit sudah ada atraksi cahaya hijau yang meliuk-liuk cantik ๐Ÿ˜‰

Demikian agama ini sangat memaklumi kebutuhan manusia akan kesenangan, bahwasannya hari raya adalah hari raya, hari suka cita. Meski tentu, kita bersedih karna ramadhan baru saja berlalu. Tapi di hari raya, kita disunnahkan menunjukkan kegembiraan dan suka cita, mengistirahatkan jiwa dan raga, namun tentu tidak dengan bermaksiat ๐Ÿ™‚

Dari Aisyahย radhiyallahu โ€˜anha, ketika para pemuda bermain diย masjidย pada hari raya, Rasulullahย shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda, โ€œAgar orang-orang Yahudi mengetahui bahwa dalam agama kita juga ada waktu bersenang-senang, sesungguhnya aku diutus dengan agama yang hanifโ€ (HR Ahmad no: 24855 dengan sanad hasan)

Malaikat Kecil
Aku amat terkesan dengan budaya di tanah suci saat hari raya. Sesubuh itu, aku dan mama duduk bersebelahan di dalam masjid. Kali ini di tempat istimewa karna kami “kepagian” ๐Ÿ˜€ Diwaktu-waktu sholat hari-hari kemarin, sulit sekali untuk bisa menempati lokasi itu karna selalu keduluan orang hehe

Seusai sholat shubuh berjamaah di hari pertama bulan syawal itu, beberapa wanita arab berkeliling membagikan kurma. Mereka bukan panitia, hanya sukarela. MasyaAllah, haru sekali hatiku menatap pemandangan itu. Aku sampai dapat kurma bertubi-tubi karna banyaknya para dermawan termasuk wanita arab disebelahku, sehingga aku berikan lagi ke jamaah lain karna kebanyakan. Aku sampai malu karna tidak membawa apa-apa dan tidak tahu kalau budayanya seperti ini.

Takbir mulai menggema menyambut saatnya sholat ‘idul fitri. Setelah tadi kurma yang ditebar oleh wanita-wanita arab, kali ini anak-anak kecil mengisi gelas-gelas plastik dengan air zam-zam yang tersedia di beberapa sudut. Kau tahu apa yang mereka lakukan kemudian? Mereka membagikannya kepada jamaah disekitar mereka, satu per satu dihampirinya, bolak balik dari tempat galon-galon air zam zam ke bagian jamaah, dari deretan bapak-bapak sampai deretan para wanita. Mereka bukan panitia, bukan pula murid “TPA” disana, apalagi remaja masjid (kan belom remaja :P), mereka sukarela melakukannya. Ada yang diminta oleh orang tuanya, ada pula yang spontan melakukannya atas kemauan sendiri. Begitulah budaya disana. MasyaAllah…Seketika aku disergap rasa cinta yang amat dalam pada agama ini dan ummatnya Rasulullah saw. T_T

Mengerti bukan mengapa cinta itu menyergap hatiku? Nyata betul bagaimana anjuran Nabi SAW untuk membatalkan puasa sebelum sholat ‘idul fitri itu dipraktekan di depan mata ku dengan amat sangat ber-ruh ๐Ÿ™‚ Taat, peduli, berbagi, menjadi satu irama menghembuskan cinta ke dasar tiap hati yang menyaksikannya :’)

Kau tau apalagi yang unik? Anak-anak tetaplah anak-anak ๐Ÿ™‚ Mereka berlarian kesana kemari, memakai baju terbaiknya, sedikit ribut dan heboh. Tapi para asykar tidak memarahi mereka ๐Ÿ™‚ Pasti kau berpikir bahwa baju yang anak-anak itu kenakan adalah “baju muslim” ya? Ya ada juga yang begitu, tapi lebih banyak lagi yang memakai gaun pesta dengan rambut ditata sedemikian rupa ๐Ÿ™‚ Sungguh pemandangan yang unik. Karna apa? Yang menuntun tangan anak-anak itu adalah wanita-wanita berjubah hitam dari ujung kepala sampai ujung kaki, atau pria-pria bergamis panjang dengan surban menjuntai dikepala ๐Ÿ™‚ MasyaAllah…sungguh agama ini sama sekali tidak kaku, karna anak-anak itu memang belum baligh ๐Ÿ™‚

Soal pakaian, aku jadi inget cerita OSD di bukunya yang berjudul “Cahaya di Atas Cahaya”. Disitu ia menceritakan pengalamannya belajar di ‘Ummul Quro kampus putri, di Makkah (kampus putra jauh, di dekat padang arofah). Ternyata wanita arab itu, kalau sudah tiba di ruang kelas, mereka membuka jubah hitam dan jilbab panjangnya karena semua isi ruangan adalah muslimah. Justru aneh dan akan ditegur oleh dosennya (yang juga muslimah) jika tetap memakai jilbab ๐Ÿ˜€ Dan taukah apa fakta unik selanjutnya? Ternyata dibalik jubah hitam itu, mereka dobel dengan pakaian modern yang modis ala masa kini namun tetap menjaga aurat dan adab kesopanan ๐Ÿ˜‰ Selain itu, rambut mereka pun ditata ketika sudah buka jilbab di ruang kelas, ada yang pakai pita, bandana, dsb. Saat melihat OSD takjub dengan fenomena itu, teman sekelasnya yang orang lokal menjelaskan bahwa Islam memang mengatur cara kita berpakaian tapi juga tidak melarang kita mempercantik diri, tentu semua ada tempat dan waktunya. Di ruangan ini bahkan di kampus ini, semua isinya adalah muslimah, jadi tidak perlu khawatir. MasyaAllah :’)

Balik lagi ke sholat idul fitri…

Ternyata akhirnya aku menemukan budaya yang sama dalam momen ini. Seusai sholat ‘ied, para jamaah bersalam-salaman dengan penuh haru. Padahal di waktu-waktu sholat kemarin tak pernah aku melihat fenomena salam-salaman ini. Orang arab, afrika, tionghoa, eropa, turki, indonesia dsb, kami saling memandang dan bersalaman penuh suka cita. Tentu dengan sesama jenis, laki-laki dengan laki-laki, wanita dengan wanita ๐Ÿ˜‰

Taqobbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum.

Lebaran Bersama Jamaah Travel
Setibanya kami di hotel setelah menunaikan sholat idul fitri, aku dan keluarga bertemu dengan para muthowwif dan jamaah travel umroh kami. Kemudian kami salam-salaman. Makanan hari raya khas tanah air sudah menanti kami di ruang makan hotel, jadi kami segera meluncur kesana. Alhamdulillah…lebaran di tanah suci dengan cita rasa tanah air ๐Ÿ™‚

Agak siang, jamaah umroh satu travel kami diminta berkumpul. Sebetulnya itu untuk mengisi kesenyapan lebaran dinegeri orang. Jadi diadakan tausyiah dan muhasabah bersama, menjelang kepulangan kami yang tinggal 2 hari lagi ke tanah air. Betul-betul haru, aku nangis kejer pas muhasabah. Dari sejak tausyiah yang nyinggung-nyinggung ‘kita bakal segera meninggalkan tanah suci’ itu aja udah bikin aer mata meleleh tak tertahankan…

Allah…maka nikmat-Mu yang mana lagi yang berani-beraninya aku dustakan? Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah. Terima kasih Allah yang Mahasantun telah berkenan mengundangku dan menjamu dirumah-Mu dengan jamuan ternikmat dalam hidupku :’)

#latepost #utangtulisan #umrohramadhan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s