Apapun trauma yang kau hadapi,
Ketahuilah, bahwa Allah dapat campur tangan untuk memberi ketenangan dalam fikiran, ketenangan dalam hatimu dan Allah dapat memberikan kedamaian kembali. Baik karena kegelisahan, ketakutan, kesedihan, ataupun kemarahan. Apapun perasaan atau kejadian yang melukaimu, Allah dapat menghilangkan luka itu sepenuhnya. Mintalah pada Allah untuk menyembuhkan lukamu 🙂

Watch “Juz 20 – Menyembuhkan Hati yang Terluka –  Nouman…” on YouTube – Juz 20 – Menyembuhkan Hati yang Terluka –  Nouman…: https://youtu.be/lDr4Im5Qwik

Ceramahnya selalu berhasil bikin mata berair, padahal (alhamdulillah) sedang tidak terluka 🙂
Da luka hati kita mah apa atuh dibanding lukanya ibunda Nabi Musa AS.

Advertisements

Obrolan santai bersama orang tua di sore hari ini..berawal dari topik cctv, berujung jadi topik masa kecilku yang masih terkenang-kenang oleh mereka..ketika usiaku antara 4-6 tahun.

“Bapak inget banget deh sampe sekarang, anin dulu waktu kecil suka nongkrong di pos ronda malem-malem. Padahal bapak mah dirumah. Anin sendirian ke pos ronda, ngumpul bareng bapak-bapak yang ngeronda. Kadang nyender aja di tiang listrik deket pos ronda…haha”

Ada lagi,

“Trus dulu tu waktu kecil tiap ada rumah tetangga yang pintunya kebuka, semuanya dimasukin sama anin. Tapi cuma diem, gak minta apa-apa. Kicep-kicep aja. Haha”

Ada juga cerita,

“Pernah nih bapak mau celupin kepala anin ke aer karna ngoles-ngoles (red: maaf) eek di tembok kamar mandi. Trus anin dengan lucu bilang, ‘jangan dong, Pak’. Hahaha gak jadi marah deh.”

~~~~

Hihihi tolong ajalah itu kepolosan masa kecilku bikin kangen pengen jadi anak-anak lagi! Gak takut begini, gak takut begitu 😀

~~~~

“Kayaknya baru kemaren, sekarang udah gadis aja..” Bapak mengakhiri ceritanya.

Seberapapun usiaku, aku adalah putri kecilmu yang itu :’)

Berpelangi di Belitong

Setelah perjalanan ke Bromo yang tak kunjung ku ceritakan disini, kali ini aku gak mau kelupaan untuk nulis tentang perjalanan ke Belitong. Salah satu pulau impiankuuuuu. Aku harus nyatet banget biar gak lupa dan bisa dikenang! 😀

Perjalanan kali ini beda dengan perjalananku yang lain. Ini agak sedikit mewah karna difasilitasi kantor haha. Tapi ini bukan curi-curi waktu saat dinas luar, ini murni jalan-jalan tim sejumlah 57 orang. Kalo di acara jalan-jalan kantor sebelumnya ke Garut, para study coordinator, termasuk didalamnya aku, yang jadi semacam event organizer, kali ini kantorku pake travel agent biar semua bener-bener bisa liburan. yuhuuuuuuu 😀

Ternyata benar adanya, bermimpi itu gak bayar jadi gak perlu takut. Dulu gak pernah bayangin bisa umroh, baru berapa bulan ada niatan, langsung ditunaikan sama Allah. Hampir sama halnya dengan Belitong ini, bedanya justru aku udah lama pengen ke Belitong, sejak baca novel tetralogi Laskar Pelangi jaman masih kuliah di Depok. Alhamdulillah bisa terwujud kurang lebih 7 tahun setelahnya, tanpa keluar duit dari kocek pribadi! Sampai saat ini, bagiku belum ada novel lain yang lebih berkesan dari Laskar Pelangi. Penggambaran budaya lokalnya sangat kuat, menurutku. Dan aku baru menyadari setelah kemarin kesana, betapa dari empat buah novel saja yang kemudian dijadikan film, menjadikan sebuah pulau yang sebelumnya tak banyak dikenal, tiba-tiba saja menjelma menjadi lebih bermartabat.

Ya. Kekuatan tour di Pulau Belitong justru tak bisa lepas dari Laskar Pelangi, baik novel maupun filmnya. Sampai jargon pemerintah daerahnya pun terseret menjadi “Selamat Datang di Negeri Sejuta Pelangi”. Pasar gantong yang diceritakan dalam novel dan dijadiin tempat syuting pun jadi objek wisata. Dan hampir semua, bahkan mungkin semua titik lokasi syuting Laskar Pelangi dijadikan objek wisata disana. Luar biasa. Aku bener-bener merinding takjub membayangkan semua proses itu berjalan. Seorang Andrea Hirata yang mengusung keresahannya tentang keterpurukan tambang timah di kampung halamannya, justru membangkitkan lumbung rezeki lain bagi penduduk lokal, yaitu sektor pariwisata. Terlepas dari beberapa dilema tentang pariwisata itu sendiri ya hehe.

Tak banyak tempat yang aku kunjungi kemarin, karna keterbatasan waktu. Idealnya kata Kak Dadah, tour guide kami, biasanya untuk bisa dapet semua objek wisata setidaknya butuh 3 hari 2 malam. Tapi kami kemarin hanya 2 hari 1 malam, dan itu pun banyak yang dipangkas karna emak-emak lebih milih belanja oleh-oleh ketimbang memperjuangkan waktu yang tersisa untuk dapet semua objek yang udah direncanakan. Hhhhhhh. huvht. Haha mudah-mudahan masih dikasi rejeki untuk menyelami Belitong lagi. Beneran deh itu puloooo indah bangeeeettttt Masya Allah,,,pantai, pasir, air, pemandangannya semua bikin meleleh, ketagihan!

Hari pertama, 18 April 2015

Setibanya di Bandara HAS Hanandjoeddin, Tanjung Pandan, kami sudah dijemput oleh tour guide yang akan menemani kami selama 2 hari kedepan. 57 orang peserta terbagi jadi 2 Bis sedang. Bis 1 ditemani sama Bang Rian, Bis 2 sama Kak Dadah. Aku kebagian di Bis 2. Kata Kak Dadah setelah kami memilih agar dia menggunakan bahasa lokal saja selama menemani kami, “Baru kali ini aku ngeguide selama 2 hari penuh pake bahasa Belitong. Enak lah aku kalau begini, gak usah capek-capek mikir bahasa Indonesia haha.”  Aku pribadi suka banget denger orang ngomong pake bahasa lokalnya, lebih berasa taste daerahnya. Ternyata Bahasa Belitong itu mirip melayu dan sedikit kesunda-sundaan, tapi logatnya kayak madura *nahloh hihi

Dari Bandara kami langsung meluncur ke Bundaran Satam di pusat kota. Di Bundaran itu ada monumen yang dipuncaknya bercokol (replika) batu satam yang konon katanya jatuh dari luar angkasa (aku belum banyak tau tentang ini, jadi skip). Masyarakat setempat memandang batu satam sebagai sesuatu yang sangat bernilai, sampai banyak mitos-mitos yang dipercaya hehe. Disitu kami bukan sekedar memandangi Batu Satam, melainkan dijamu dengan makan Mie Belitong Mak Jannah yang enaaaaaakk bangeeettt, Alhamdulillah. Sebelumnya aku dapet selintingan kalo Mie Belitong itu kurang enak, tapi ternyata itu salah total. Yang ini enak banget, sambelnya pedes, kuah udangnya berasa banget. Ditambah dengan suguhan Es Jeruk Kunci khas Belitong yang seger punya. Sedaaaaap :9

Setelah itu kami langsung meluncur ke Tanjung Kelayang yang memakan waktu 30 menitan. Hari pertama ini kami akan ngibek-ngubek Belitong Barat yang katanya lebih banyak objek wisatanya dari Belitong Timur. Pas sampe di Tanjung Kelayang ngeliat pasir putiiiiiiihh bangeett dan aernya hijau biru jerniihh banggeeet, cantiknya kayak dipoto-poto, Masya Allah *_* Di Tanjung Kelayang ini kami berganti kostum untuk siap snorkeling. Sebelum naek ke perahu yang akan membawa kami ke Pulau Lengkuas, berfoto-foto dengan latar “Welcome To Belitong” adalah sebuah keharusan haha. Kemudian kami naek perahu sekitar 30 menit lagi, untuk mencapai Mercusuar Enthoven di Pulau Lengkuas. Jadi sebelum snorkeling, kami naek ke Mercusuar setinggi 18 lantai dulu, lumayan buat pemanasan. Eh masa suaminya bosbesarku kan umurnya udah 71 tahun yak, doi kuat naek ampe puncak mercusuar, edduuuunnn. Memotivasi banget gak sih itu haha. Daaan beneran gak rugi setelah ngos-ngosan naek 313 anak tangga, pemandangannyaaa maaaaak gak ada duaa. Indah banget masya Allah. Ih itu mah yang dipoto-poto beneran kayak begitu cakepnya, gak pake edit.

DSC06585

Mercusuar Enthoven, Pulau Lengkuas, Belitong. Photo taken by me

DSC06597

View dari puncak Mercusuar Enthoven, Pulau Lengkuas, Belitong. Photo taken by me.

DSC06538

Berlatar batu granit paruh burung (garuda?). Photo taken by Bang Nadi (tour guide)

Abis turun dari Mercusuar, kami naek perahu lagi menuju spot snorkeling yang gak begitu jauh dari situ. Eh iya, kami terbagi jadi 5 perahu hihi banyak yah. Plung! Plung! Plung! Satu per satu kami turun dari perahu masing-masing, menikmati pemandangan bawah laut yang masya Allah. terumbu karangnya masih bagus, masih banyak ikan-ikan juga, walaupun masih lebih banyak variasi kakayaan laut pas snorkeling dikawasan krakatau sih hehe. Trus pas mau dipotoin underwater ama tour guidenya, kamera underwaternya matek keabisan batere. Hahaha belom rejekiiii. Yaudahlah, gak semua hal perlu dipoto jugak *menghibur diri 😀

Setelah puas dan cukup lelah berenang-renang sekuat tenaga yang tak jua maju-maju karna arusnya deres banget, aku dan seorang kawan malah keseret jauh dari perahu, terbawa arus. Akhirnya minta bantuan karna udah gak kuat lagi renangnya, udah sejam renang gak nyampe-nyampe kayaknya haha. Kemudian kami langsung meluncur ke Pulau Kepayang untuk makan siang. Edun ada restoran di pulau kecil gitu, berasa pulau milik yang punya restoran hihi. Disini pantainya juga sama aja, lebay banget putih pasirnya, terlalu bagus T_T Makanannya seafood semuaaa haha berbagai macem ikan disegala macemin, ada sate kerang yang enak banget, sate udang juga ada, sama ada apa itu ya masakan khas belitong yang kaya gulai gitu, aku lupa namanya. Pokoknya Alhamdulillah banget itu mah, makan mewah gratisan ditengah laut hihi..

Kenyang makan, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Pasir. Itu sebenernya lebih tepat disebut gundukan pasir putih ditengah laut yak, bukan pulau, kecil bangeeett haha tapi dikerubutin banyak orang. Masya Allah yah pasir segitu gak abis kebawa aer laut. Itu pun kami beruntung bisa menepikan perahu dipulau itu karna air laut lagi surut. Kalau pas air laut pasang, pulau itu gak keliatan hihi. Dan disekitaran Pulau Pasir ini banyak Pattrick alias bintang laut, banyak bangeeett masyaAllah. Mana imut-imut lucu gitu, cantik T_T

image

Seharusnya objek berikutnya adalah Pulau Batu Berlayar, pulau ini juga hanya bisa didatangi kalau air laut surut, kalau pasang, pasirnya gak nampak. Tapi kemarin gak tau kenapa, perahu kami gak jadi ke pulau itu hihi jadi cuma liat dari agak deket. Disebut Pulau Batu Berlayar emang tepat banget, karna itu batu-batu segede gaban ngejogrog ditengah laut gitu kayak batu lagi berlayar. Beruntungnya, setelah dari situ ada lagi tipe model batu-batu granit gede gitu juga, yaitu Tanjung Tinggi. Untuk sampai kesitu kami perlu merapat ke Tanjung Kelayang dulu, turun dari perahu, dan melanjutkan perjalanan dengan Bis sekitar 10 menit. Nah di Tanjung Tinggi ini juga adalah tempat syuting Laskar Pelangi, sampe ada monumennya segala hehe. Disini aernya juga jerniih, pasirnya putiih, batunya guede hihi. Allah tu bener-bener deh, hebat banget nyipatain yang beginian. Dan rata-rata dilaut sekitar Belitong itu banyak batu-baru besar gitu.

Sekitar jam 4 sore kami sudah menuntaskan trip hari pertama. Semestinya masih ada objek berikutnya yaitu Masjid dan Kelenteng tertua di Belitong, tapi udah pada teler dan belom pada sholat, jadi pada melambaikan tangan ke kamera, eh ke Kak Dadah, tanda kami sudah nyerah 😀 Karna untuk menuju objek itu butuh waktu yang gak sedikit hihi Udah pada gak betah basah-basahan. Akhirnya kami langsung menuju hotel untuk bebersih dan istirahat sejenak. Ba’da Isya, kami sudah harus di Bis lagi menuju ke Restoran Dynasty untuk makan malam. Eta maaah meuni raos pisan masakanna, enak banget, apalagi kepitingnya. Aku tu kan paling males makan kepiting ya karna butuh usaha besar tapi yang didapet dikit hihi, nah untuk kali ini baru pertama deh aku makan kepiting puas banyak dagingnya hihi mana enak banget bumbunya #ngeces.

Kenyang makan, kami ada acara di aula restoran itu, semacam sedikit paparan dari bos besar kami tentang progress hasil penelitian sejauh ini. Gak tau kenapa aku gak ngantuk dengerinnya, kayaknya karna penasaran, tadinya dihotel udah teler plus kenyang baru makan yak padahal. Malam itu ditutup dengan tukar kado, huehehe sampe bos besar ikutan tuker kado segala haha, tuker kado senilai 20 rebuan doang padahal 😀 Beres itu, kami naek bis lagi menuju hotel untuk istirahat 🙂 Hebat juga yak travelnya, makan malam bela-belain diluar untuk dapet taste makanan yang enak. Soale kalo dihotel mungkin gak dapet yang seenak itu.

Hari Kedua, 19 April 2015

Setelah sarapan di hotel, jam 8 pagi kami meluncur ke Belitong Timur. Perjalanan dari Tanjung Pandan ke Belitong Timur memakan waktu 1.5 jam jadi lumayan ngabisin waktu banget. Hari kedua ini waktu kami mepet karna harus udah di bandara jam 14.30. Sebelum ke Belitong Timur, travelnya nganter kami ke pusat oleh-oleh dulu. Sebenernya dijadwal terbaru, gak ada waktu untuk belanja oleh-oleh karna bosku udah nyiapin oleh-oleh masing-masing 1 dus berisi aneka jajanan khas Belitong untuk tiap orang. Tapi yah namanya jalan ama emak-emak, pada ngotot mau belanja, sampe Kak Dadah agak sedikit resah jadwalnya berantakan. Gak cuma Kak Dadah sih, aku dan anak-anak muda lainnya jugak resaaaaaahh haha. Bayangin aja, dikasi waktu 30 menit untuk belanja, hasilnya adalah 1.5 jam abis cuma untuk beli oleh-oleh. Duh sayang banget! Karna apa? Karna itu artinya, 2 objek wisata langsung didelete ama tour guidenya. HIKS HIKS. Yang didelete itu adalah Pantai Serdang dan Danau Kaolin yang katanya mirip kawah putih di Bandung! T_T

image

Akhirnya dihari kedua itu kami hanya ke makan siang di Restoran Fega di Kota 1001 Manggar dan ke Museum Kata Andrea Hirata. huhu, yah lumayan lah daripada lumanyun hihi. Di Kota 1001 Manggar itu banyak banget warung kopi, persis kayak yang diceritain novel Laskar Pelangi kalau orang Belitong tu suka banget nongkrong di warung kopi hihi. Habis makan di Restoran Fega yang tempatnya didesain kayak kapal laut bertingkat dan viewnya menghadap ke danau air asin, kami langsung menuju ke Museum Andrea Hirata. Itu pun cuma dikasi waktu 10 menit haha ngapain coba 10 menit mah, ujung-ujungnya mah tetep 30 menit sih didalem museum. Oiyak didalemnya itu ada warung kopi kuli, kata yang pada minum kopi, itu kopi enak banget. Yang laen pada beli, aku enggak hehe.

image

image

image

Jam 13 siang kami sudah harus menuju bandara untuk pulang karena perjalanan dari Museum Kata Andrea Hirata ke Bandara membutuhkan waktu 1.5 jam. Hiks Hiks, cedih harus berpisah. Jam 16 kami take-off, jam 17 kami sudah tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Alhamdulillah ‘ala kulli haal. Barangkali kalau itu perjalanan disusun sama temen-temenku yang pada doyan jalan, pasti pesen tiketnya yang paling malem haha bahkan mungkin besok subuhnya baru pulang hihi. Syukuri sajah biar ditambah nikmatnyah 🙂 YA ALLAH TOLONG UNDANG AKU, KELUARGAKU, DAN TEMAN-TEMANKU DONG UNTUK KE BELITONG LAGI PLIIIISSS T_T

***

Hari ini, 20 April 2015

Diantara 6 study coordinator, cuma aku yang masuk kantor haha. Yang laen pada takjub karna aku masuk sedangkan mereka pada tepar pegel-pegel. Kata seorang kawan mengomentari aku yang masuk kerja, “Dia udah biasa traveling jadi kuat fisiknya. Gue kakinya berkonde haha pegell.” Hihi barangkali ada benernya juga ya, traveling bisa melatih fisik jadi lebih kuat, Alhamdulillah. Kalo jalan di mall atau di toko buku berjam-jam bareng mereka pun aku selalu dikomentarin “Gue udah gak kuat nih. Lu gak pegel ndin?” Lalu kujawab, “belom”. Abis itu aku langsung disembur, “Yah dia mah kuat jalan berjam-jam, udah biasa jalan digunung” Hahaha aku cuma ketawa kalo digituin. Dalem hati mah, jiaaah mereka gak tau aja kalo diantara temen-temen seperjalanan naek gunung biasanya aku yang paling letoy wkwkwk. Alhamdulillah yah jalan-jalan ada guna jangka panjangnya jugak ternyata haha.

Sebenernya tadi aku juga udah males berangkat, gak begitu pegel sih, cuma masih pengen leha-leha. Tapi aku gak boleh ngebiasain kayak gitu hihi karna sekali males bakal keterusan. Sedangkan masih banyak tempat yang pengen aku kunjungin, jadi aku harus selalu profesional sama kerjaan karna bakal banyak cuti wakakakak *tujuannya tetep gak bener. Dulu abis turun dari gunung Papandayan dilanjut berdiri di bis 9 jam dan baru sampe rumah jam setengah 4 pagi aja aku langsung kerja paginya, masa’ yang ini mau males? Gak adillah. Aku selalu mikir, Allah udah ngasih liburan yang nikmat, masa abis itu males-malesan, dimana syukurnya? Liburan kan buat refreshing, kalo abis itu males, dimana refreshnya? Gile sok iye banget hehe piss ah! ^^V

Kapan Nikah?

#1 Hari ini, 15 April 2015

Papa nunjukin sebuah pesan yang masuk ke telpon genggamnya pagi tadi dari seorang kerabat jauh di Subang,

….Teteh kapan nikah, Pak? Kabarin ya Pak, nanti saya mau ambil cuti kalau teteh nikah..

Teteh yang ditanyakan dalam pesan itu adalah aku. Wkwkwkwk

#2 Kemarin, 14 April 2015

Pagi-pagi Oma main ke rumah. Oma ini bukan nenekku hehe, beliau tetangga di dekat rumah. Baru beberapa hari beliau tiba ditanah air sepulangnya dari tanah suci. Setelah cerita-cerita pengalaman umrohnya, beliau menoleh ke arahku,

“Jadi kapan nikahnya?”

GLEK, “Doain aja Oma. Hehe. Kemaren pas disana ngedoain gak, Oma?”

“Ohiya dong sudah Oma doakan. Buruan deh nikahnya jangan lama-lama. Udah ada calonnya kan? Udah ada belum?”

GLEK LAGI. “Eee..aaa…Hehehe makasih ya Oma udah didoain disana.”

Wkwkwk.

#3 Pekan lalu

Seorang sahabat nyeletuk,

“Gue baru sadar pas kemaren ke dokter ditanyain umur. Ternyata umur kita udah 27 ya! Buruan lu nikah.”

HAH? Edun pisan, dari berobat ke dokter ujungnya bisa inget soal (nasib) nikah sahabatnya haha. Itu cuma dalem hati. Yang meluncur mah,

“Hahaha iyeee doain aje”

“Mau gue cariin gak?”

Bingung kalo ditanyain ginian, jadi nyengir-nyengir aja 😀

***

Bagi para singles, pada sering juga ya ditanyain ginian? Hihi Sebagian mungkin risih dengan pertanyaan itu. Aku pun, dulu. Tapi makin kesini, makin biasa, justru kadang cenderung bersyukur *loh

Bersyukur dong… karna ternyata masih ada yang perhatian (udeh kayak butuh perhatian banget wkwk). Eh serius loh bersyukur. Bayangin aja kalo ga ada yang nanyain, bisa-bisa kita kelupaan kali ya karna tergerus rutinitas (?) *itu mah elo kali ndin 😛

Gimana gak bersyukur coba?

Pertama, Kerabat yang di Subang itu bukan sodara, bukan tetangga. Ketemu aku juga baru 2 kali. Dia anaknya temen SMA Papa. Lebih muda dari aku sih, tapi udah bersuami dan punya anak hehe. Jadi terharulah kalo dia masih inget aku, bahkan mau cuti segala demi dateng ke nikahanku (yang entah kapan itu) 😀

Kedua, Oma tetanggaku itu udah sepuh banget (walaupun masih lincah sih hihi). Silaturahimnya kuat banget kemana-mana. Otomatis banyaklah kenalannya yah. Aku bersyukur beliau masih inget aku ditanah suci hehe. Udah gitu apa cobak? Beliau kemaren umrohnya sendiri, gak didampingin anak atau sodara, cuma ikut rombongan travel (tapi tenang aja, beliau mah jago kemana-mana sendiri walaupun udah bungkuk 🙂 ) Jadi seneng bangetlah didoain ama Oma sholihah yang lincah. Gak tanggung-tanggung, beliau nanyain soal “kapan nikah?” Itu pas pamit sebelum berangkat dan pas ngasih oleh-oleh sepulang umroh. MasyaAllah baiknyaaa :’)

Ketiga, sahabatku yang nyuruh nikah itu lagi sakit sebulan batuk gak sembuh-sembuh. Dan ketika berobat itu baru aja denger penjelasan dari dokter kalo di paru-parunya ada bakteri. Tapi saat ditanya umur ama dokternya, eh yang diinget malah nasib sahabatnya. MasyaAllah, semoga Allah beri kesembuhan untuk rasa sakitnya 😦

***

Pernah ada mungkin ya masa-masa panik sama umur, pertanyaan orang-orang, orang tua terutama ya hehe atau karna liat temen-temen bahkan junior-junior yang udah pada nikah. Kalo udah panik gitu, niat nikahnya jadi kacau balau bukan? Aku sih baru sadar sekarang-sekarang aja. Niatnya malah mau nikah karna tekanan pertanyaan orang-orang, atau karna liat orang udah pada nikah. Gitu gak? Normal sih, kan kita makhluk sosial…

Tapi pada akhirnya, mau semua orang nanyain, neken, nyuruh, ngejodohin, bahkan banyak motivator nikah yang nyindir-nyindir segala rupa, KALO ALLAH BELOM BILANG “KUN” YA GAK BAKAL “FAYAKUN” 😀 ye nggak? Hehe

Percayalah, keinginan nikah itu fitrah. “Siapa sih yang ga mau nikah?” Gitu komentar seorang sahabat ketika kesel liat kelakuan para motivator nikah hueheh. Walaupun ada juga sih beberapa orang yang takut nikah, bahkan benci pernikahan, tapi itu sedikitlah. Dan aku sih yakin, orang-orang itu didalam hati kecilnya pasti ada kebutuhan untuk berkeluarga, minimal punya ‘keluarga’. Moso mo hidup sebatang kara sampe akhir hayat? Na’udzubillah…

Semakin bertambah tingkat kematangan kita, pada akhirnya pertanyaan “kapan nikah” itu udah gak begitu mengganggu. Justru jadi kaya lagu merdu #lebaybangetsumfe 😀

Jadi, untuk saudara-saudariku yang dirahmati Allah, pertanyaan “Kapan nikah?” Itu sesungguhnya juga dipertanyakan oleh yang ditanya. Hehe alias, kita sama-sama gak tau kapannya. Dan aku juga yakin sih, orang yang nanyain “kapan nikah?” Itu juga pasti udah paham kalo yang ditanya pun gak tau jawabannya. #pabaliut 😀

Tapi sungguh indah kalau pertanyaan “kapan nikah” itu dilontarkan dengan tulus, bukan untuk nyindir, apalagi nyinyir 😛 Lebih bagus lagi kalau dibarengi dengan doa dan bantuan nyariin jodoh, misalnya. #kodekeras 😀

Dan alangkah berkahnya kalau Allah persatukan kita dengan jodoh yang Dia tetapkan, dalam balutan niat yang luruuuuusss untuk beribadah karna Allah, luruuus karna takut pada Allah :’) Bukan karna takut pada usia atau takut pada cemo’ohan manusia.

Baarakallahufikum…

Gugup

Gugup itu ketika,

Lama tak berkumpul dengan orang-orang Sholeh, kemudian ‘memaksakan diri’ untuk masuk kedalam ‘lingkaran’ mereka lagi. Itu rasanya gugup.

Gugup juga adalah,

Setelah lama gak ke kampus, kembali menyusuri jalan-jalannya dan bertemu dengan manusia-manusia didalamnya, itu rasanya gugup.

Ternyata gugup juga,

Saat tahu kalo informan yang diwawancara untuk keperluan tesis adalah anaknya ustadz ternama. Baru taunya pas wawancara pula. Dan bersuamikan hafidz qur’an pula. Dan kudu wawancara sepasangan suami-istri itu pula. Dan terjebak dua kali pula. Pertama, anaknya ustadz terpandang sekaligus dekan di sebuah kampus di Bogor. Kedua, anaknya ustadz terpandang sekaligus pemilik sekolah tinggi Islam di Depok. Gimana gak gugup coba?

Wahaha, kapan sih gak gugupnya din?!

Allah tu keren banget deh, gak paham lagi aku. Aku merasa terjebak diantara kebaikan hamba-hamba-Nya. Terjebak diantara orang-orang baik. Alhamdulillah ‘ala kulli haal 😀 #nyengirmeringis

Nb: Kedua pasangan yang diwawancara belum aku kenal sebelumnya, apalagi background keluarganya. Makasi banyak untuk buderida dan mbabes yang udah ‘menjebak’ aku sehingga bisa kenal dengan orang-orang super keren itu 😀 Ini namanya jaulah apa wawancara tesis yak haha

Dari Blusukan di Kwitang Sampai Blusukan di Toko Buku

Kemarin, bener-bener kemarin banget, bukan kemarinnya lagi, apalagi kemarin kemarinnya lagi, seusai makan siang ditempat kerja, aku blusukan ke seputaran daerah Kwitang, Jakarta Pusat. Bukan, bukan untuk menggantikan Mas Joko yang sedang berhalangan blusukan karna sibuk tandatangan yang entah dibaca terlebih dulu atau tidak. Tapi kulakukan karna ini bagian dari pekerjaanku. Kemarin aku perlu mengunjungi 3 keluarga di 3 tempat berbeda, mencari alamat kesana kemari, tingting!

Kwitang adalah sebuah ironi di Pusat Ibu Kota. Ia bukan hanya sekedar terletak di Ibu Kota, lebih dari itu, di pusatnya Ibu Kota. Artinya sepusat-pusatnya Indonesia. Dimana rakyat dengan tingkat ekonomi bukan lagi menengah kebawah malainkan masuk dalam kategori miskin, bermukim. Berdesakan, bertumpukan, bergulung-gulung menyatu di dalam rumah-rumah petak yang bisa dikatakan tak layak huni. Tak dimasuki cahaya dan pengap, berhimpitan dengan kali yang dijejali sampah, kadang dipadu juga dengan kandang ayam didepan rumah, semuanya menyatu merebakkan aroma tak sedap setiap hari 24 jam, 7 hari seminggu, 30 hari sebulan, 365 hari sepanjang tahun. Setidaknya selama 4 tahun aku mondar-mandir ke wilayah itu, hampir tak nampak perubahan. Belum lagi wilayah lainnya yang serupa. Setidaknya ada 4 wilayah lainnya yang menjadi titik penelitian tempat kerjaku yang hampir semuanya serupa: Kampung Pulo (Jakarta Timur), Tambora (Jakarta Barat), Koja (Jakarta Utara), dan yang kondisinya agak mendingan adalah Pasar Minggu (Jakarta Selatan). Kenyataan itu terpampang jelas di Ibu Kota nan metropolitan ini. Di tengah-tengah kita.

Seorang kawan kantor bahkan sempat mengeluarkan komentar pekan lalu dalam sebuah rapat tim, “Gue gak mau home visit lagi pokoknya. TITIK. Bau, kotor, jijay, pengap, udah gitu masuk dari gang mana ntar keluarnya gak tau kemana.” Sesungguhnya aku prihatin mendengarnya. Bukan, bukan hanya prihatin pada kondisi wilayah itu. Kalo itu mah pasti ya. Tapi aku lebih prihatin lagi mendengar ada adegan ala ala tokoh remaja sinetron di tempat kerjaku. Sebelum ia mengeluarkan kata-kata itu, aku diam menahan diri meski keluhan demi keluhan lain dilontarkannya. Tapi setelah kalimat itu meluncur dari lisannya, hatiku berontak. Aku merasa gak layak membiarkan kalimat itu ada ditempat kerjaku, akhirnya kukeluarkan tanggapan, “Ya mau gimana lagi, kan subjek penelitiannya ada disitu. Kecuali kalo subjek penelitian lo orang kaya tuh, elo bisa dah ke rumah-rumah elit”, kuucapkan dengan nada bercanda yang menimbulkan tawa darinya dan tim yang lain, padahal hatiku ngilu. Dalem hati aku pengen ngomong, “Ini kerja men, kita dibayar buat ngerjain ini. Kalo gak mau ya cari kerjaan laen lah. Manja kamu, dek.” Wahahahahah #alaalaospek. Lebih dari sekedar profesionalitas kerja dan duit sih, kok rasanya kalimat kawanku itu ga pantas ya diucapkan oleh sesama warga Indonesia, bahkan sesama manusia. Sinetron di TV berhasil kali ya mendidik remaja Indonesia jadi kurang empati begitu. SodkrirjwowlwbduFbduekeo?@*+=$&*#;-(-+?:]_]#*(#

Hufh, kenapa bahas ini ya jadinya (?) Padahal bukan ini yang pengen aku tulis. Hihi. Okeh. Sebenernya yang mau aku tulis tu kejadian setelah blusukannya. Setelah aku menemui 3 keluarga yang kucari dan menuntaskan pekerjaanku, aku langsung bergegas. Let’s go! Meluncur ke sebuah toko buku besar dibilangan Matraman, melipir sedikit ke Jakarta Timur.

Aku punya misi mencari buku yang udah lama banget kucari, lebih tepatnya novel. Berjudul “Khadijah: Ketika Rahasia Mim Tersingkap”. Sebuah novel terjemahan karya Sibel Eraslan asal Turki. Hmmpphh Kenapa begitu menggebu mencari novel ini? Karna aku suka banget ama Ibunda Khadijah, tapi nyatanya aku gak tau banyak tentang beliau. Jadi tiap kali ada buku tentang beliau, aku begitu menggebu ingin menyelaminya. Benarlah apa yang dikatakan Tasaro GK dalam testimoninya terhadap novel ini,

“Sedikit sekali yang kita tahu tentang Ibunda Khadijah r.a. Kita merindukannya dengan malu-malu. Takut salah, takut tak sopan, takut dosa? Sampai, Sibel Eraslan menulis novel ini dan mengajari pembaca untuk mencintainya dengan ekspresif, revolusioner dan heroik. Bahasa tutur novel ini membuat pembaca berhadapan langsung dengan Khadijah. Memahami betapa akbar peran beliau bagi sejarah kenabian.”

T_T peluuukkkk ibunda Khadijah T_T

Nah, pas banget, bener-bener pas. Pagi harinya sebelum aku blusukan, aku liat Instagram dan menemukan Dewi Sandra mengaplot foto 5 buah novel, hadiah dari sahabatnya berjudul: Khadijah. Asiyah. Fatimah Azzahra. Maryam. Aisyah.

BETUL-BETUL KAYAK NEMU HARTA KARUN RASANYA. hihi.

Alhasil, pas sampe di toko buku, aku ngubek-ngubek nyari kelima novel itu tapi gak nemu-nemu. Trus baru inget ada mesin pencari. Langsung ku ketikan nama “Sibel Eraslan” sebagai kata kunci. Taraaaaaa!!! Serta merta lima buah novel itu muncul di daftar hasil pencarian. MasyaAllah Alhamdulillah masih ada stok. Muter-muter nyari nomer rak yang tertulis di mesin pencari itu tapi hasilnya nihil. Akhirnya aku nyerah, nanya deh ama petugas. Trus ditunjukin, ternyata emang nomer raknya udah diganti. Bbbrrrr.

Aku langsung berbinar-binar liat lima novel itu…dan dengan teliti milih yang paling rapi bungkusannya. Tapi yang Fatimah Azzahra gak ada yang dibungkus. Ketika ku tanya petugas untuk minta buku yang masih di bungkus, ia menjawab, “Oh memang tinggal itu mbak stoknya. Yang tersedia tinggal yang di rak Buku Laris itu.” MasyaAllah bahkan aku gak tau kalo itu rak Buku Laris, bahkan gak tau jugak kalo ternyata buku-buku itu udah segitu laris manisnya. Alhamdulillaaah yah masih kebagian. image Btw, tesis gimana tesis kabarnya? Haha malah beli novel, 5 pulak 😛 Baca novel aja semangat, baca buku referensi semangat juga gak? Hihihi *melipir ke pojok baca novel*

Keberanian bukanlah berarti tidak takut.
Keberanian adalah sabar menanti pada tempat yang semestinya meski dalam keadaan takut sekalipun. –Khuwaylid bin Asad (Ayahanda Ibunda Khadijah)

Bersabar bukan hanya sebatas bertahan terhadap segala rintangan. Sabar adalah tidak berbuat zalim meski mampu melakukannya. –Kata para orang tua kepada anak-anaknya, di sebuah masyarakat padang pasir.

Dicuplik dari dalam buku indah ini:

image

Berenang-renang, Variasi Olah Raga

Variasi dalam olahraga itu ternyata jitu mengusir kemalasan bergerak. Walaupun gak ada banyak jenis olahraga yang aku bisa, seenggaknya olahraga yang disuka bisa jadi mood booster. Aku kurang begitu bisa olahraga permainan, apalagi permainan hati *halah. Maksudnya permainan bola-bola, aku nyerah banget #angkatangan. Mungkin itu agak dipengaruhi atau mempengaruhi otakku yang gak kreatip. Hihi

Aku lebih suka olahraga yang jalan kaki atau sedikit lari-lari kayak jogging dan senam aerobik. Naek-naek ke puncak gunung atau susur goa bisa juga jadi kesenangan yang berbuah olahraga yak. Oiyak, sama yang di aer-aer gitu juga aku sukaaakk walaupun gak begitu bisaaa hehehe. Baru sedikit bisa berenang-renang dan snorkeling sih, tapi pengen banget bisa diving. Ih gimana ya bisa diving dengan kondisi jaga hijab, masalahnya pakaiannya ketat mamen, huhuhu itu bikin kepikiran banget sih. Bisa kali ya kalo instruktur dan segala orang-orang yang menyertainya adalah wanita 😐

Soal olahraga di aer ini, berenang maksudnya, aku udah bisa ngambang di aer dari SD. Tapi belom bisa berenang ala ala profesional gitu. Selama ini kalo renang, yang itupun jarang-jarang, ya renang sekuat nafas aja, belom bisa ambil nafas saat lagi meluncur di aer. Nah baru tadi siang aku belajar ambil nafas, lumayan bisaaa alhamdulillah, kata temen sih yang penting dicoba sering-sering yang kaya gitu mah asal udah tau tekniknya. Trus-trus ada lagi tadi kemajuan belajar renangku, aku udah bisa ngambang sambil telentang ihiiiyyy alhamdulillah! Cuma ngambang doang sih, tanpa gerakin kaki dan tangan. Agak-agak kayak mayat ngambang gak sih 😐 Kalo kaki dan tangannya digerakin, jadi deh tu renang gaya kupu-kupu. Tapi aku belom sampe situh, untuk berani telentang di aer aja butuh ketenangan jiwa raga hahaha *lebay. Yang penting bisa telentang di aer dulu lah ya, bertahap 😛

Ternyata enak banget loh telentang di aer tu. Gak denger apa-apa kecuali nafas kita sendiri, trus bisa nafas dengan bebas lah ya kan mukanya diatas aer. Kebetulan tadi kolam renangnya beratapkan langit, jadi asik pisan bikin mo tidur *loh 😀 Tapi kalo cuma ngambang tanpa gerak yang terarah ntar jadi ngikutin arus seperti air yang mengalir *kek motto idup siapa nih? 😛 Oiyak, jangan lupa sebelom nyemplung, pake peregangan dulu yak biar lentur eh biar gak keram 😀

Renang tu serunya kalo bareng temen yak, biar bisa maen lomba-lombaan, ceileh gaya banget. Kalo aku mah biar bisa minta diajarin hihi. Tadi tu aku bareng kawan-kawan sepengajian di kolam renang khusus muslimah daerah depok. Seru yak, pengajiannya ada olahraganya segala 🙂 *siap-siap diblokir blognya kalo nyebut-nyebut pengajian 😛

Berkat hari ini, kolam renang khusus muslimah yang aku tau bertambah, resmi jadi 2. Sebelumnya beberapa kali renangnya di Gudang Peluru Tebet *gile makin diblokir gak sih nih blognya pake segala nyebut-nyebut gudang peluru haha. Bayarnya waktu itu 15 rebu, gak tau udah naek apa belom, Nah kalo yang tadi tu renangnya di perumahan The Orchid Residence. Dari Stasiun Depok Baru, tinggal naek angkot sekali, angkot nomer 01 arah kavling. Ntar minta turun di Jl. Dahlia II A, masuk deh jalan kaki cari The Orchid Residence, nah kolam renangnya didalem, tanya satpam aja. Tiap hari khusus muslimah disitu, kecuali selasa cuma ampe jam 12. Jam 12 keatas buat cowo. Bayarnya 25 rebu. Walopun kolam renang khusus muslimah, pakaian renangnya tetep harus nutup aurat yak bahkan pake kerudung juga. Soalnya itu outdoor gitu, takut diintip Jaka Tarub trus selendangnya ntar diambil *apeu 😛

Tadi aku renang cuma sejam aja, soalnya dulu pernah yak renang 1.5 jam, besokannya bahu pegel gak ketulungan haha. Karna gak biasa kali ya, kalo rutin mah gak gitu kali. Sejam hari ini luar biasa banget deh. Masa yah, tulang ekorku (kek kucing gak sih ada ekornya hihi), beberapa pekan belakangan kaya agak susah kerjasama ama tulang punggung. Jadinya aku kalo berdiri kayak ketiup angin, agak condong ke depan. Mungkin efek gendong tas berat isi laptop dan kitab kuliah. Eh masa alhamdulillah abis renang tadi udah bisa berdiri normal tegak sigap pasti pas! Dari nol ya pak! *ngisi bensin buuu 😛

MasyaAllah ya, alhamdulillah ya Allah T_T emejing! 🙂 Aku jadi inget deh kalo renang ini salah satu olahraga yang dianjurkan Nabi Muhammad SAW. Dua olahraga lainnya yang dianjurkan Nabi SAW, berkuda dan memanah, juga baik dalam membentuk sikap tubuh loh katanya. Bikin tegak dan gagah. Terlepas dari gagah-gagahan, cita-citaku banget bisa 3 olahraga yang dianjurin Nabi SAW ini. Kapan yak bisa latihan berkuda dan memanah T_T