2 Ustadz 1 Wajah (?)

NAK-KHB

MIRIP GAK? MIRIP KAN?! UDAH IYAIN AJA. *capslock kesenggol* hihihihi ๐Ÿ˜€

Aku lebih dulu kenal tau tentang Ustadz Khalid Basalamah dari pada Ustadz Nouman Ali Khan. Keduanya aku ketahui ceramah-ceramahnya dari postingan teman-teman yang sholeh-sholehah. Jadi benar adanya, ‘agama’ kita tergantung ‘agama’ teman-teman kita. ๐Ÿ™‚

2 Ustadz, 2 Negara, 2 Bahasa, 1 Wajah (?)

Pertama kali tertarik menyimak ceramah Ustadz Khalid Basalamah karena seorang teman memposting kumpulan video ceramah Sang Ustadz mengenai Shirah Nabawiyah (Sejarah Nabi SAW) tak lama setelah aku pulang umroh. Saat itu kerinduanku pada Rasulullah SAW dan segala tentangnya memang sedang menggebu jadi rasanya kaya ketiban rejeki pas dapet link kumpulan ceramah ini. Kemudian satu per satu video ceramahย  Shirah Nabawiyah itu aku dengarkan, aku sukaaaaaak!!!! MasyaAllah…Maha Suci Allah yang menciptakan Ustadz Khalid Basalamah dengan segala kemampuan dan kecerdasannya. Ceramahnya bukan hanya lengkap tapi juga runut dan rinci. Mengalir namun terarah. Disampaikan oleh beliau dengan penuh energi sehingga kita dibuatnya terbawa suasana. Beliau orang Indonesia jadi insyaAllah bisa lebih mudah dipahami ya oleh kita. Pokoknya tonton deh, insya Allah gak nyesel ๐Ÿ™‚ Aku biasanya dengerin ceramahnya pas dikantor, jadi ngedengirn ceramah sambil kerja, dari pada dengerin lagu terus kan hehe ๐Ÿ˜› Beliau punya akun youtube dan situs resmi sendiri yang berisi kumpulan ceramah-ceramahnya. LENGKAP. hihii ๐Ÿ˜€ Cekidot langsung ya! ๐Ÿ˜‰

Beberapa bulan setelah aku sering dengerin ceramah Ustadz Khalid Basalamah, seorang senior di sebuah ‘grup whatsapp jalan-jalan’ beberapa kali memposting ulasannya tentang ceramah Ustadz Nouman Ali Khan (aku telat banget taunya oii, kurang pergaulan). Beberapa kali itu pula aku tersentuh, terhentak, tergugu, terhanyut dalam keindahan kandungan firman Allah dalam Alquran yang disampaikan Sang Ustadz. Penjelasan Ustadz Nouman Ali Khan membuatku seakan bisa merasakan kemukjizatan Alquran. Ceramahnya dalem dan menukik. Diambil dari Alquran namun beliau amat bisa meramunya dengan kehidupan kita yang riil sehingga kita begitu menikmati apa yang beliau jelaskan. MasyaAllah..Maha Suci Allah yang menciptakan Ustadz Nouman Ali Khan dengan segala kemampuan dan kecerdasannya. Ustadz Nouman Ali Khan merupakan founder dari Bayyinah Institute yang berada di Amerika Serikat, ceramah-ceramahnya juga bisa dilihat di channel youtube dan Facebooknya. Kalau terkendala bahasa, bisa juga menyimak yang channel youtube bersubtittle bahasa Indonesianya seperti di NAKIndonesia dan Islam Idn. Kalo aku sih masih lebih sering dengerin yang ada subtittle Indonesianya wkwk ๐Ÿ˜€

Ya. Kalau Ustadz Khalid Basalamah sangat asyik dalam menceritakan sejarah Nabi SAW dan para sahabat ra., maka Ustadz Nouman Ali Khan ini sangat menggugah dalam menjelaskan kandungan Alqur’an. Perpaduan ilmu dan Ustadz yang amat menyenangkan dalam mengisi hari-hariku beberapa bulan belakangan ini. Kedua Ustadz ini belum pernah aku temui secara langsung, ceramahnya pun belum semuanya aku dengerin, namun seringkali membuat hatiku mbrebes mili bahkan tak jarang hingga membuatku tak bisa menahan tangis. Keduanya juga telah amat sukses membuatku menggebu ingin ‘berlari’ mempelajari Alqur’an, bahasa Arab, dan sejarah Islam (semoga Allah beri kesempatan dan kemudahan untuk mempelajari ini). Hari ini kenapa aku nulis tentang keduanya? karna aku pun baru sadar ternyata keduanya MIRIP yak wajahnya? Beda negara, beda bahasa, pun beda pembahasan, tapi dengan wajah yang mirip, kembar gak sih mereka. MasyaAllah. Mudah-mudahan Allah berikan keberkahan ilmu dan hidup kepada Ustadz Nouman Ali Khan dan Ustadz Khalid Basalamah, serta orang-orang yang telah mempermudah kita dalam mengakses ceramah keduanya dan memahaminya.

Ya Allah…

Gerakkanlah hati kami agar terus menggebu merindui apa yang Kau suka. Kuatkanlah langkah kami dalam berlari mengejar keridhaanMu. Karuniakanlah kami manisnya iman, nikmatnya ibadah dan keberkahan dalam menuntut ilmu. Mudahkanlah kami dalam memahami, mempelajari (dan mengajarkan) Alquran dan agama ini. Waj’alna lil muttaqina imama..

Sumber gambar Nouman Ali Khan dari sini, sedangkan Khalid Basalamah didapat dari sini.

Advertisements

Keajaiban di Siang Bolong

Siang ini aku kayak ditunjukin keajaiban deh. Lebay gak ya, enggak sih kayaknya, emang keajaiban hehe. Sebenernya yang kayak begini pernah ku alami beberapa kali. Tapi ini baru kesempetan buat nulisin.

Jadi kan sekarang akhir bulan ya, iya trus kenapa. Biasa deh, akunya lagi kere hehehe. Sampe ga punya duit buat makan siang hari ini hihihiii. Ada duit sih 10 rebu, buat ongkos balik dari kantor dan jaga-jaga aja ๐Ÿ˜€ #ngenes. Nah, jadi aku mutusin untuk gak beli makan siang dong. Alhamdulillahnya, di ruangan kantor banyak cemilan. Jadi nyemil aja ampe kenyang lah yak, gitu pikirku. Trus pas aku mau sholat dzuhur (aku sholatnya diruangan kerja), bosku masuk ruangan, doi mau numpang makan karna bawa bekel.

“Gak beli makan, mba Andin? Aku bawa bekel nih jadinya gak beli makan.”

Aku jawab (ini jujur sih), “Aku belom berasa laper, dok :)” Trus aku sholat. Nah pas sholat itu, karna nyium wangi makanan bekelnya bos-ku, perutku tetiba kruyuk-kruyuk. hihihihii ๐Ÿ˜€ *khusyuk gak ya sholatnya ๐Ÿ˜€ Karna udah berasa laper itu, aku sempet kepikiran, apa duit 10 rebunya aku pake buat beli makan aja ya…

Di saat lagi pergolakan batin itu (yang ini baru lebay), pas aku lagi ngelipet mukena, bosku yang udah kelar makan dan abis cuci tangan, tetiba ngomong “Mba Andin mau makan?” Baru aja mau aku jawab, doi udah lanjut lagi nanyanya “Kalo mau makan, ini aku ada nasi.” Nah loh, mau gak mau aku kudu beli lauknya dong yak kalo bilang mau makan. Trus gak tau gimana tetiba mulutku ngomong “Oh eh, aku beli gado-gado dulu kali ya dok buat lauknya.” Gado-gado dapet 10 rebu, pikirku. Trus doi membalas dengan jawaban yang bak air turun ditanah tandus, “Aku ada lauknya juga ini, sapi lada hitam, bikinan aku sendiri loh. Tapi gak ada sayurnya. Itu bekel makan pagiku tadi gak kemakan karna banyak pasien.” Maasya Allaah……..

Kebayang kan setelah itu ekspresi mukaku kayak gimana hehehe. Cengengesan berbinar-binar. “Wah, makasi ya dok.” kemudian kubuka bekel yang dikasih bosku itu. Pas dituang ke piring, wiiihh daging sapi lada hitamnya banyak banget, ada tahu 2 biji pula. Langsung ku lahap sampai tandas sambil bincang-bincang dengan bosku seputar masakan dan pembantu dirumahnya yang lucu ๐Ÿ˜€

Biasa aja ya ceritanya? Tapi buat aku yang ngerasain perut laper dan ngenes karna gak punya duit, trus tetiba dapet makan siang gratis tak terduga, ini keajaiban namanya ๐Ÿ™‚ Bener ternyata. Rejeki itu ketetapan. Udah tertulis! Kalo itu rejeki kita, mau gimana jalannya, dia akan sampai pada kita. Rejeki kita bukan nominal gaji yang kita terima tiap bulan. Bukan pula segenap fasilitas yang kita miliki. Dia adalah yang kita asup dan kita pakai, sebatas itu aja. Dan bisa jadi datangnya bukan langsung dari kerjaan yang kita lakukan tiap hari. Bukankah pernah sampai pada kita cerita tentang Siti Hajar yang bolak-balik bukit Shofa dan Marwa 7 kali untuk mencari air buat bayinya, Ismail AS, namun justru air itu terbit dari tanah yang terhentak-hentak kaki sang bayi?

Betapa panjang jalannya rejeki makan siangku untuk sampai diperutku siang ini. Ramuannya, bumbunya, bahannya, komposisinya, yang segitu, udah ditetapkan bakal masuk ke perutku siang ini sejak ia dituliskan oleh Tuhan pencipta alam. Dari sejak sapi itu masih dalam kandungan, kemudian di lahirkan, digembalakan, diberi makan, dibesarkan, sampai disembelih, dibawa ke pasar, dibeli oleh bosku, dimasaknya, hingga dibawa ke kantor hari ini, itu adalah ketetapan, riwayat jalannya rejeki makan siangku hari ini. Belum pula ditambah riwayat perjalanan nasi, tahu, garam, cabe, lada, kecap, dsb. Bahkan sampai didukung kejadian banyaknya pasien pagi ini yang membuat bosku gak bisa sarapan masakannya sendiri itu juga adalah ketetapan. Ketetapan bahwa nasi sapi lada hitam dan tahu itu ternyata rejeki untuk ku siang ini. Sedangkan aku? Hampir tak nampak upayaku untuk mendapatkan rejeki itu. Bayangkan, aku gak kemana-mana untuk mencarinya. Bahkan gak keluar ruangan, kecuali buat wudhu. Namun rejeki itu sampai padaku hanya dengan melangkah dari sejadah ke kursi kerjaku. Masya Allah…walhamdulillah..

Eh tapi bukan berarti kebaikan Allah yang begini dijadiin alasan untuk malas-malasan berusaha mengupayakan rejeki yah hehe. Ibunda Siti Hajar itu ikhtiar loh sampe letih dan payah, dan rejeki itu datang walau dari tempat yang tak terduga. Bisa dari mana aja datangnya, gak mesti dari yang kita upayakan. Barangkali perjalananku berangkat ke kantor hari ini merupakan bagian dari jalannya rejeki makan siangku hari ini walau bukan dari uang gaji bulananku hehe. Alhamdulillah ‘alaa kulli haal… Kalo kata seniorku, “Rejeki mah gak kemana, kalo gak rejeki ya gak kemari” hehehe.

Yang kita cari, kita kejar, kita upayakan, kita jerihkan barangkali bukan rejeki itu sendiri, mestinya. Melainkan ridhanya Allah, yang telah dengan sangat teliti mengatur segala urusan kita. Semangaattt menggebu mencari rejeki ridha Allah! Semoga selamat sampai tujuan, semoga itu syurga! ๐Ÿ™‚

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, โ€˜Kami telah beriman,โ€™ sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (29: 2-3)

Pernah gak ngalamin misalnya abis nulis semacam kata-kata bijak atau abis ngingetin temen tentang kebaikan, trus kontan langsung diuji sama Allah tentang hal yang kita nasehatin ke orang lain? Atau misalnya abis taubatan nasuha dari suatu hal, trus diuji lagi dengan hal serupa yang sudah diinsyafi tersebut?

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, โ€˜aku akan melakukan kebaikan ini, kebaikan itu,โ€™ sedang mereka tidak diuji lagi komitmennya?

Atau

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan ke orang lain,ย ‘Barangkali ada baiknyaย begini dan begitu’, sedang mereka tidak diuji lagi dengan kata-katanya itu?

Atau

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) sesudah bertaubat (memohon ampun kepada Allah), ‘Ya Allah aku mohon ampun kepada-Mu dari segala kenistaan yang telah kulakukan’ (memohon sampai air mata rasanya habis), sedang mereka tidak diuji lagi dengan ujian kemaksiatan serupa?

“…dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”

Subhanallah…Laa haulaa wa laa quwwata illaa billaah..

Sungguh tak ada daya dan kekuatan untuk melakukan ketaatan & tak ada daya dan kekuatan untuk menghindar dari kemaksiatan kecuali atas pertolongan Allah. Kecuali atas pertolongan Allah. Kecuali atas pertolongan Allah. T_T

Hari Raya di Tanah Suci

Pada dini hari ketika itu adalah rekor tershubuh terpagiku berangkat untuk menunaikan ibadah sholat ‘idul fitri. Jam 03.30 waktu setempat, aku dan keluarga sudah duduk manis didalam masjid. Diawali dengan sholat qiyamul lail, disambung dengan sholat shubuh ketika sudah tiba waktunya, setelahnya takbir mulai menggema. Barulah sekitar jam 06.00 sholat ‘ied berjamaah itu didirikan. Di Masjidil haram.

“Malam Takbiran”
Kami berangkat sepagi itu karna masjidil haram tak pernah surut dari jama’ah. Bahkan saat malam “takbiran”.  Oh salah. Saat memasuki 1 syawal. Soalnya disana gak ada malam takbiran ๐Ÿ˜€ Juga karena muthowwif kami sudah mewanti-wanti bahwa sholat ‘iedul fitri akan sangat padat sekali dan panjangnya jamaah bisa sampai dikejauhan 10 km. Beliau mengatakan itu karna sudah sekitar 7 tahun berdomisili di Makkah dan mengalami sendiri sholat idul fitri di wilayah Ma’la namun bermakmum pada imam di masjidil haram, saking panjangnya jamaah sholat ‘ied ๐Ÿ˜€

Aku salah total waktu mengira “malam takbiran” akan membuat orang-orang surut dari masjidil haram dan berkumpul dengan keluarga mereka di rumahnya atau kerabatnya di hotel (bagi warga non-Saudi). Justru di akhir ramadhan dan memasuki bulan syawal itu, jamaah membludak tak ada bedanya dengan malam sebelumnya. Pusaran thawaf semakin memadat hingga pagi.

“Malam takbiran” disana bukan ditandai dengan takbiran seperti disini, melainkan dengan dentuman meriam sebanyak 3 kali dan atraksi cahaya di langit yang “ditembakkan” dari puncak Clock Tower yang berhadapan langsung dengan Masjidil haram. Sebetulnya orang-orang disana juga takbiran di malam itu, tapi sendiri-sendiri, karna aku mendengar dengungan takbir sepanjang jalan tiap melawati kerumunan manusia.

Seusai sholat isya berjamaah dan sudah tidak ada lagi sholat tarawih, para jamaah berhamburan keluar masjid, kemudian suara meriam berdentum-dentum, orang-orang memadati halaman dan jalan-jalan diluar sambil menatap ke langit penuh suka cita. Dilangit sudah ada atraksi cahaya hijau yang meliuk-liuk cantik ๐Ÿ˜‰

Demikian agama ini sangat memaklumi kebutuhan manusia akan kesenangan, bahwasannya hari raya adalah hari raya, hari suka cita. Meski tentu, kita bersedih karna ramadhan baru saja berlalu. Tapi di hari raya, kita disunnahkan menunjukkan kegembiraan dan suka cita, mengistirahatkan jiwa dan raga, namun tentu tidak dengan bermaksiat ๐Ÿ™‚

Dari Aisyahย radhiyallahu โ€˜anha, ketika para pemuda bermain diย masjidย pada hari raya, Rasulullahย shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda, โ€œAgar orang-orang Yahudi mengetahui bahwa dalam agama kita juga ada waktu bersenang-senang, sesungguhnya aku diutus dengan agama yang hanifโ€ (HR Ahmad no: 24855 dengan sanad hasan)

Malaikat Kecil
Aku amat terkesan dengan budaya di tanah suci saat hari raya. Sesubuh itu, aku dan mama duduk bersebelahan di dalam masjid. Kali ini di tempat istimewa karna kami “kepagian” ๐Ÿ˜€ Diwaktu-waktu sholat hari-hari kemarin, sulit sekali untuk bisa menempati lokasi itu karna selalu keduluan orang hehe

Seusai sholat shubuh berjamaah di hari pertama bulan syawal itu, beberapa wanita arab berkeliling membagikan kurma. Mereka bukan panitia, hanya sukarela. MasyaAllah, haru sekali hatiku menatap pemandangan itu. Aku sampai dapat kurma bertubi-tubi karna banyaknya para dermawan termasuk wanita arab disebelahku, sehingga aku berikan lagi ke jamaah lain karna kebanyakan. Aku sampai malu karna tidak membawa apa-apa dan tidak tahu kalau budayanya seperti ini.

Takbir mulai menggema menyambut saatnya sholat ‘idul fitri. Setelah tadi kurma yang ditebar oleh wanita-wanita arab, kali ini anak-anak kecil mengisi gelas-gelas plastik dengan air zam-zam yang tersedia di beberapa sudut. Kau tahu apa yang mereka lakukan kemudian? Mereka membagikannya kepada jamaah disekitar mereka, satu per satu dihampirinya, bolak balik dari tempat galon-galon air zam zam ke bagian jamaah, dari deretan bapak-bapak sampai deretan para wanita. Mereka bukan panitia, bukan pula murid “TPA” disana, apalagi remaja masjid (kan belom remaja :P), mereka sukarela melakukannya. Ada yang diminta oleh orang tuanya, ada pula yang spontan melakukannya atas kemauan sendiri. Begitulah budaya disana. MasyaAllah…Seketika aku disergap rasa cinta yang amat dalam pada agama ini dan ummatnya Rasulullah saw. T_T

Mengerti bukan mengapa cinta itu menyergap hatiku? Nyata betul bagaimana anjuran Nabi SAW untuk membatalkan puasa sebelum sholat ‘idul fitri itu dipraktekan di depan mata ku dengan amat sangat ber-ruh ๐Ÿ™‚ Taat, peduli, berbagi, menjadi satu irama menghembuskan cinta ke dasar tiap hati yang menyaksikannya :’)

Kau tau apalagi yang unik? Anak-anak tetaplah anak-anak ๐Ÿ™‚ Mereka berlarian kesana kemari, memakai baju terbaiknya, sedikit ribut dan heboh. Tapi para asykar tidak memarahi mereka ๐Ÿ™‚ Pasti kau berpikir bahwa baju yang anak-anak itu kenakan adalah “baju muslim” ya? Ya ada juga yang begitu, tapi lebih banyak lagi yang memakai gaun pesta dengan rambut ditata sedemikian rupa ๐Ÿ™‚ Sungguh pemandangan yang unik. Karna apa? Yang menuntun tangan anak-anak itu adalah wanita-wanita berjubah hitam dari ujung kepala sampai ujung kaki, atau pria-pria bergamis panjang dengan surban menjuntai dikepala ๐Ÿ™‚ MasyaAllah…sungguh agama ini sama sekali tidak kaku, karna anak-anak itu memang belum baligh ๐Ÿ™‚

Soal pakaian, aku jadi inget cerita OSD di bukunya yang berjudul “Cahaya di Atas Cahaya”. Disitu ia menceritakan pengalamannya belajar di ‘Ummul Quro kampus putri, di Makkah (kampus putra jauh, di dekat padang arofah). Ternyata wanita arab itu, kalau sudah tiba di ruang kelas, mereka membuka jubah hitam dan jilbab panjangnya karena semua isi ruangan adalah muslimah. Justru aneh dan akan ditegur oleh dosennya (yang juga muslimah) jika tetap memakai jilbab ๐Ÿ˜€ Dan taukah apa fakta unik selanjutnya? Ternyata dibalik jubah hitam itu, mereka dobel dengan pakaian modern yang modis ala masa kini namun tetap menjaga aurat dan adab kesopanan ๐Ÿ˜‰ Selain itu, rambut mereka pun ditata ketika sudah buka jilbab di ruang kelas, ada yang pakai pita, bandana, dsb. Saat melihat OSD takjub dengan fenomena itu, teman sekelasnya yang orang lokal menjelaskan bahwa Islam memang mengatur cara kita berpakaian tapi juga tidak melarang kita mempercantik diri, tentu semua ada tempat dan waktunya. Di ruangan ini bahkan di kampus ini, semua isinya adalah muslimah, jadi tidak perlu khawatir. MasyaAllah :’)

Balik lagi ke sholat idul fitri…

Ternyata akhirnya aku menemukan budaya yang sama dalam momen ini. Seusai sholat ‘ied, para jamaah bersalam-salaman dengan penuh haru. Padahal di waktu-waktu sholat kemarin tak pernah aku melihat fenomena salam-salaman ini. Orang arab, afrika, tionghoa, eropa, turki, indonesia dsb, kami saling memandang dan bersalaman penuh suka cita. Tentu dengan sesama jenis, laki-laki dengan laki-laki, wanita dengan wanita ๐Ÿ˜‰

Taqobbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum.

Lebaran Bersama Jamaah Travel
Setibanya kami di hotel setelah menunaikan sholat idul fitri, aku dan keluarga bertemu dengan para muthowwif dan jamaah travel umroh kami. Kemudian kami salam-salaman. Makanan hari raya khas tanah air sudah menanti kami di ruang makan hotel, jadi kami segera meluncur kesana. Alhamdulillah…lebaran di tanah suci dengan cita rasa tanah air ๐Ÿ™‚

Agak siang, jamaah umroh satu travel kami diminta berkumpul. Sebetulnya itu untuk mengisi kesenyapan lebaran dinegeri orang. Jadi diadakan tausyiah dan muhasabah bersama, menjelang kepulangan kami yang tinggal 2 hari lagi ke tanah air. Betul-betul haru, aku nangis kejer pas muhasabah. Dari sejak tausyiah yang nyinggung-nyinggung ‘kita bakal segera meninggalkan tanah suci’ itu aja udah bikin aer mata meleleh tak tertahankan…

Allah…maka nikmat-Mu yang mana lagi yang berani-beraninya aku dustakan? Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah. Terima kasih Allah yang Mahasantun telah berkenan mengundangku dan menjamu dirumah-Mu dengan jamuan ternikmat dalam hidupku :’)

#latepost #utangtulisan #umrohramadhan

Demi Masa, Sesek Napas

Hufhh…sesek napas deh rasanya. Hari ini harusnya jadi hari berbahagia, karna akhirnya aku bisa ketemu langsung ama Bu Septi Peni Wulandari, founder Ibu Profesional. Sekian lama aku ngefans, baru bisa ketemu sekarang. Tadi abis ikut seminar yang salah satu pembicaranya beliau. Alhamdulillah sebenernya…

Tapi akunya jadi sesek napas euy…gegara dengerin cerita bu Septi tadi, tentang anak-anaknya. Masya Allah……
Aku sesek napas karna malu sih lebih tepatnya, bukan salah bu Septi ๐Ÿ˜€ *piss buk ๐Ÿ™‚

Coba deh gugling tentang profil keluarga mereka, dari mulai Pak Dodik, Bu Septi, dan anak-anaknya (Enes, Ara, dan Elan). Terutama profil anak-anaknya. Luar biasa pisan isi keluarga ini…masyaAllah.

Pokoknya kudu banget gugling! Buruan. Sekarang juga. Detik ini juga. Biar tau gimana sesek napasnya aku. Biar rasain sendiri. Hehehe apasih

Setelah ikut seminar tadi, yang muter-muter dikepala itu ini:

“Hallo andina, 5 taun belakangan ngapain aja? Eh 26 taun belakangan jugak. Ntar ditanyain loh ama Allah. Buruan deh din benerin idup! Mumpung masi dikasi kesempatan. Bersyukur din. Bersyukur itu kata kerja.”

Beneran malu ama anak-anaknya Bu Septi -__-‘

Sungguh, demi masa.
Semalam, bahkan sedetik yang lalu, sungguh telah pergi selama-lamanya, dan tak kan kembali. Subhanallah, astaghfirullah…

image

Malam Yang Syahdu

Aku masih ingat tentang malam itu. Dan ingin selalu ingat. Malam itu, entah apakah bisa kuulang apa yang pernah begitu kuat menguasai hatiku.

Malam itu aku dibangunkanย sekitar jam 1. Aku ada diantara teman-teman SMAku, kami sedang mengikuti kegiatan Islamic Super Camp yang diselenggarakan oleh Rohis SMA. Kami hanya peserta karena masih siswa baru, kelas 1 SMA. Ini pengalaman pertamaku mengikuti kegiatan menginap dari organisasi sekolah, ditempat yang jauh, puncak. Semangat sekali aku ketika itu.

Setelah berwudhu dan sholat tahajjud, kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Diberi arahan untuk mendatangi sekian pos. Lalu dimulailah perjalanan malam itu.ย Cemas tapi syahdu. Penuh tanda tanya ditiap langkahnya, dan ditiap posnya. Pos-pos awal semacam menguji persaudaraan dan kekompakan diantara teman satu kelompok. Sampai tibalah di pos terakhir. Jalan menuju pos terakhir tersebut agak jauh. Setibanya kami di pos itu, disambut oleh kakak-kakak dengan tampang super serius. Hati jadiย berdebar tapi entah kenapa tetap syahdu.

Di pos terakhir itu, kami diminta duduk bersebelahan namun harus berjarak, diminta memasang penutup mata yang sudah disediakan. Kemudian ditanya beberapa hal tentang tauhid. Mungkin senior ingin tahu seberapa cintaย kami kepada Allah dan Rasul-Nya. Sampai tibalah hal itu. Hal yang membuat malam itu masih ku ingat sampai sekarang. Rupanya senior kami tidak merasa cukup menguji tauhid kami sebatas lisan. Setelah selesai semua pertanyaan mereka, masih dalam kondisi mata ditutup kain, mereka berujar:

“Oke, pos ini sudah selesai, sekarang kalian akan menuju pos selanjutnya. Dibelakang kalian ada hutan, Pos selanjutnya harus melewati hutan itu, jalannya jauh banget. Gak ada rumah penduduk, cuma hutan liar aja. Saya gak tau ada binatang apa aja disana. Untuk menuju pos itu kalian harus jalan sendiri-sendiri, Jadi nanti startnya dikasih jeda tiap orang. Gimana? Siap melanjutkan perjalanan?”

………

Kami diam. Dalam kondisi tak melihat satu sama lain. Gelap. Tak tau apa yang ada dipikiran kawan disebelah. Kami berpikir masing-masing. Tanpa bisa berkoordinasi. Sendiri. Harus memutuskan dengan pikiran sendiri setelah sebelumnya kami dilatih bekerjasama. Terasa sangat asing dan mencekam.

“Jadi siapa yang siap melanjutkan perjalanan? Kami tidak memaksa. Kalian boleh berhenti sampai disini kalau gak mau melanjutkan.”

Jantungku makin kencang berdegup, pikiranku berkejaran dengan desakan senior. Apakah aku berani jalan sendiri melewati hutan yang belum pernah kulalui, yang tak ku ketahui seperti apa jalurnya, tak tahu ada binatang apa saja disana. Dan yang paling mencekam, aku tak tahu apakah temanku yang lain memutuskan melanjutkan perjalanan atau berhenti disini. Setidaknya kalau aku tahu ada teman, aku bisa menunggunya didalam hutan. Bagaimana jika ternyata hanya aku sendirian yang melanjutkan perjalanan? dum. dum. dum. Aku harus memutuskan sendiri, secepatnya, dan harus menanggung sendiri, resikonya.

“Baik, cepat putuskan. Bagi yang mau melanjutkan perjalanan, silakan angkat tangan.”

Allah. Ini benar-benar menguji keyakinanku pada-Mu. Seberapa teguhkah imanku, adakah yang masih aku takuti selain Engkau. Allah bukankah aku bilang aku yakin pada-Mu? Bukankah aku bilang hanya Engkau yang aku takuti? Dan sekarang Engkau minta bukti. Maka, Bismillah. Aku mengangkat tanganku.

“Kamu yakin dek mau melanjutkan perjalanan sendiri? Cuma kamu loh yang angkat tangan.”

DEG! Aku beneran bakal sendiri. Allah, bersama-Mu, bersama-Mu. Ku kuat-kuatkan keyakinan. “Yakin ka, insyaAllah”.

“Oke, silakan buka tutup mata kalian. Siapa tadi yang angkat tangan?”

Aku mengangkat tanganku, tapi ternyata beberapa kawan ada yang mengangkat tangan juga. 3 dari 7 orang mengangkat tangannya. Alhamdulillah, ternyata senior hanya menguji. Aku punya kawan seperjalanan.

“Ya, silakan bagi yang akan melanjutkan perjalanan lewat sini” Senior itu mengarahkan. “Sendiri-sendiri ya.”

Baru beberapa langkah kami memasuki wilayah hutan itu, ada yang teriak,

“Dek, berhenti! Kembali lagi kesini”

Kami menoleh karena bingung. Lalu menuruti instruksi.

“Selamat ya! Kalian berhasil. Pos ini untuk menguji keyakinan kalian kepada Allah. Kalian gak perlu melewati hutan itu. Lagian itu bukan hutan, berapa ratus meter kedalem udah rumah penduduk lagi kok. Hehe. Silakan kembali ke villa lewat sini saja.”

Kami bengong, cengok. Masih jetlag. Dan para senior itu memeluk kami. MasyaAllah….meleleh air mata.

“Allahu Akbar!” pekik kami serentak. Hatiku tiba-tiba saja seluruh isinya menjadi syahdu…

***

Allah, kalau aku diuji seperti itu lagi saat ini, aku tak tau masih berani angkat tangan atau tidak. Bahkan kejadian malam itu bukan ujian sebenarnya karna aku tidak jadi menyusuri hutan sendiri. Sedangkan beberapa orang yang ku kenal bahkan sudah pernah benar-benar naik gunung melintasi hutan-hutannya sendirian. MasyaAllah..

Allah, sungguh, untuk tetap teguhย amatlah berat. Beri rahmatlah kami, ampuni kami, dan teguhkanlah kami dalam tunduk, patuh, takluk pada-Mu.

Allah, kami berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyu’ dan keras, dari tubuh yang malas, dan mataย yang tak bisa menangis…..

***

Jumuah Mubarak!

Baca Alkahfi dan banyakin Sholawat kepada Nabi SAW ๐Ÿ™‚

#ntms

Diterpa Pesona Kesholihan

Setelah tapping kartu langganan kereta, kami berjalan memasuki stasiun menuju peron. Baru beberapa langkah berjalan, aku lihat dikejauhan seorang wanita berjilbab keluar dari sebuah toko didalam stasiun sambil menggendong balita. Entah energi apa yang membuat mataku terpaku memperhatikannya. Ia mengingatkanku kepada seorang teman.

Tak lama kemudian, seorang pria berjalan dibelakangnya, keluar dari toko yang sama. Refleks mataku menghindari pasangan itu. Eh ada suaminya, batinku. Tapi bayangan pasangan tadi masih melekat beberapa saat di pelupuk mataku. Kayaknya aku kenal deh sama suaminya. Aku alihkan lagi pandanganku ke arah mereka. Kalau mataku ini lensa kamera, aku mulai membidikan fokus lensa ke arah suaminya.

“Itu Kak X kan ya?” aku senggol sahabat disebelahku.

“Mana?” Mata sahabatku mencari-cari orang yang kumaksud.

Beberapa saat kami berdua berdiri mematung memperhatikan lelaki itu dengan seksama. Tak berselang lama, orang yang kami perhatikan menoleh tak sengaja ke arah kami. Ia sepertinya merasa diperhatikan dan ikut tersadar seolah mengenali kami juga. Jarak antara kami dan pria itu sekitar 150 meter, itulah sebabnya kejadian saling “memastikan” berlangsung agak lama. Aha! bener. Aku dan sahabatku tiba-tiba saja terdorong menghampiri keluarga kecil tersebut. Senyum sumringah khas dari senior kami saat dikampus ini menyambut kami. Ia memperkenalkan (lagi) istri dan anaknya kepada kami. Aku dan sahabatku memeluk wanita itu bergantian dan tak lupa dengan cupika cupiki kemudian menjawil pipi putrinya.

Obrolan pun mengalir sangat santai namun penuh antusias. Kami antusias, beliau pun menyambut kami dengan antusias. Jarang kutemui momen seperti ini. Biasanya kalau tiba-tiba ketemu orang yang dikenal, aku sering kikuk, gak tau mau ngobrol apa, jadi seringnya justru sekedar basa basi. Tapi dengan senior satu ini, entah ada apa sore itu, seperti ada yang menarik ujung-ujung bibirku hingga terus tersenyum sepanjang obrolan, hatiku disergap perasaan bahagia entah dari mana. Kupandangi pasangan ini dan anaknya secara bergantian sepanjang obrolan. Masya Allah…aku merasa disapu oleh ketenangan, kebahagiaan, ah aku gak tau lagi apa namanya. Pasangan ini sungguh membuatku tertegun. Aku seperti menyerap energi luar biasa dari apa yang kupandangi ini.

Ingatanku melayang….

Sebetulnya aku tidak begitu akrab dengan senior ini. Selain karena dia laki-laki (aku jarang akrab dengan laki-laki soalnya :D), beliau juga senior yang pernah menjabat Ketua Lembaga Islam di Fakultas kami. Jadi yang ada hanyalah segan dan hormat. Sejak awal mengenalnya, beliau memang sosok yang santun dan berwibawa. Seingatku, hampir tak pernah kupergoki beliau dalam keadaan yang tidak baik. Penampilannya selalu prima dan memesona semua civitas di kampus kayaknya. Selain karena wajahnya yang komersial, (fyi, kalau liat beliau, aku inget Baim Wong hehe), pribadinya memang dikenal sholeh dan kesholehannya memancar begitu saja. Tanpa dibuat-buat. Hehe mungkin aku aja kali yang berlebihan karena belom kenal dekat juga. Tapi setidaknya, itulah yang kutangkap.

Setelah lulus dari kampus, aku sempat bekerja di sebuah lembaga kemanusiaan dan menjadi staf dari senior yang satu ini. Kami satu tim dalam mengurusi sebuah kampung. Walaupun hanya sebentar saja aku bekerja di tempat itu, tapi lagi-lagi tak kutemui hal yang tidak baik padanya. Pernah disuatu siang ketika bincang-bincang santai bersama rekan-rekan di ruang kerja yang isinya adalah orang-orang yang satu almamater semua dengan kami, beliau diledekin karena melihat ke arah desktop komputer seorang rekan kerja wanita. Bukan komputernya yang salah, tapi karena di desktop itu, yang empunya komputer memasang foto dirinya dan sahabatnya yang juga satu almamater dengan kami. Sahabat rekan kerja wanita di dalam desktop itu memang cantik, berjilbab dan rebutan para lelaki dari yang abal-abal sampe yang sholeh di kampus kami. Kembang kampus isitilahnya hehe.

Kami meledeknya habis-habisan sampai terpingkal-pingkal. Tapi dengan santai saja dia berkata, “Saya gak ngeliatin itu kali..lagian dia bukan tipe saya, gak tertarik. Kalau saya emang mau mah udah saya samperin (red: lamar) ke rumahnya”. JRREEEENNGG. Seisi ruangan terpana, namun sejurus kemudian kembali terbahak-bahak, masih teguh meledeknya. Sedangkan aku berhenti karena terhenyak dengan jawabannya. Seriously? Orang sekeren Anda yang istilah kata mah wanita mana pulak sih yang nolak kalo dilamar ente, dengan enteng bilang gak tertarik sama wanita cantik pintar sholehah idaman semua pria itu?? Maap hadirin, saya emang suka lebay haha. Tapi beneran, kenyataan itu makin membuat saya menaruh hormat pada beliau.

Pernyataannya itu ternyata bukan omong kosong. Sekitar setahun setelah saya resign dari kantor itu, saya menerima undangan pernikahan beliau. Wow siapa calonnya? Kami para junior yang hobinya kepo tentang senior serta merta berselancar diinternet mencari tahu tentang sosok wanita calon istrinya. Anak kampus lain, gak kenal hehe *garuk-garuk kepala ๐Ÿ˜€ Tapi terlihat dari foto profilnya, wanita ini terkesan sholihah dan sederhana. Di hari penikahannya, aku dan kedua sahabatku datang dengan antusias. Haru dan bahagia saat melihat sepasang pengantin baru ini, MasyaAllah. Lagi-lagi aku dapati senior yang satu ini begitu berintegritas. Termasuk dalam memilih pasangan hidup. Pakaian pengantin wanitanya dibalut menutup aurat dengan jilbab yang syar’i ๐Ÿ™‚

***

Obrolan singkat dan bermakna di stasiun sore itu terhenti saat kereta yang akan mereka tumpangi sudah tiba. Aku dan sahabatku melanjutkan kembali langkah kami sambil melambaikan tangan kearah keluarga kecil itu. Tanpa terasa bibirku ternyata masih menyunggingkan senyum tak lepas-lepas. Kulihat sahabatku juga. Kami kayak habis bertemu air ditengah padang pasir. Lega dan bahagia.

“Ih kok gw seneng banget ya abis ketemu Kak X, beda ya pesonanya orang sholeh. Bikin seneng gak abis-abis”, begitu celetukku spontan saat sudah di dalam kereta. Sahabatku pun mengiyakan, ternyata kami merasakan sensasi yang sama.

“Jadi kangen deh sama kakak-kakak yang lain, gak ada reuni Nu*an* apa ya?”, timpal sahabatku. Kemudian kami berbincang tak henti-henti mengenai sosok beliau selama ini yang kami kenal sampai merembet ke senior-senior yang lain apa kabar ya. Obrolan kami baru berhenti ketika sahabatku harus turun duluan dari kereta di stasiun tujuannya,

Aku yang sendirian di kereta petang itu (gak sendiri jugak sih, ada penumpang lain hehe), kemudian update status di Facebook:

“Ada orang-orang yang bertemu dengannya saja mampu membuat hati bergetar, menambah keingatan kita kepada indahnya keimanan. Ada orang-orang yang ketika melihatnya tak terasa air mata jatuh, rasa cinta pun menjalar. Haru yang tercipta dari pesona sosoknya yang memancarkan kebaikan luar biasa.” (Winda Al Rasyid)

Abis ketemu orang sholeh tu seneng banget yah. Gak tau kenapa. Padahal cuma ngobrol bentar, tapi aura kebaikannya merasuk ke jiwa..membekas berlama-lama..membuat bahagia. Bikin pengen senyum terus. Kayak gitu banget yah pesona orang yang deket sama Allah. MaasyaAllaah smile emoticon smile emoticon smile emoticon

โ€” feeling refreshed.

***

Senja itu mengajarkanku bahwa sungguh kesholihan itu bukan sesuatu yang bisa dibuat-buat, tidak bisa sekedar dilakukan sewaktu-waktu saja, dan pancarannya tak bisa ditahan oleh siapapun (kecuali Allah yang Maha Berkehendak). Kesholihan itu justru tampil sebagai sesuatu yang menyusup dengan halus, lembut, dan hampir sulit diuraikan komposisinya. Pesonanya memancar secara apa adanya, dan begitu saja. Sampai-sampai saya berpikir, orang-orang yang memiliki pesona itu adalah orang yang kesholihannya jujur kepada Rabbnya, hanya mengharapkan keridhaan-Nya, dan tentu hanya Rabbnya yang mampu mengenali hal itu. Kemudian Allah sendiri-lah yang menerangi dengan cahaya-Nya hingga ia tampil memiliki pesona orang-orang
sholih.
Wallahu’alam..sekedar hasil renungan ๐Ÿ™‚

Assalamu’alaikum Cinta!

Aku sendiri.. menggenggam hati.. bersama sepi
Satu hari nanti
Aku langkahkan kaki.. berjalan lagi

I’ll be over you
I’ll be praying for your happiness
And i~ I am gonna start to move
I am gonna start to move
Moving on, Moving on, Moving on
Moving on, Moving on, Moving on

Gonna start to move
I am gonna start to move
Moving on, Moving on, Moving on
Moving on, Moving on, Moving on

Aku yakin nanti
Akan datangnya pagi
Aku tersenyum lagi


Itu bukan tulisan saya haha gak bakal ada yang percaya jugak sih ๐Ÿ˜€ Itu lagu. Tebak itu lagu siapa hayoo? Waktu denger pertama kali, saya kira itu lagunya Nidji. Ternyata dong yang nyanyi itu Ridho Rhomaaaaa. Moving on, judulnya. Keren deh. Lagunya pop, tapi ada cengkok dangdut khasnya Ridho. Coba deh dengerin ๐Ÿ˜‰

Ini mau bahas lagu atau Ridho Rhoma atau Cinta sih? Hihihi. Oke itu cuma intro aja kok. Biar gak kikuk ngomongin cintrong. Haha. Iya, ini kayaknya pertama kali deh saya bakal ngomong tentang cinta di blog ini. Pada hakikatnya sih emang tahun-tahun belakangan ini saya “tutup buku” dari bahas ataupun menghayati bacaan, lagu & film tentang cinta. Hoho. Alasannya sih karna gak mau terlalu melankolis ngejalanin hidup yang keras ini *cailah. Tapi, ternyata ada saatnya juga jadi kangen sisi melankolis dalam diri hehe. Gak apa lah ya biar gak datar-datar banget idup ๐Ÿ˜€

Yoosh! Ini semua gara-gara saya terpersuasi oleh ajakan mbak Asma Nadia kepada segenap followernya di instagram untuk nonton film yang diangkat dari buku beliau: Assalamu’alaikum Beijing! Lagunya Ridho Rhoma yang tadi itu salah satu soundtrack filmnya. Disini saya bukan mau ngeresensi filmnya apalagi bukunya yak. Soalnya belom baca bukunya jugak sih hihi. Ini cuma sekedar catatan harian aja ๐Ÿ™‚

Sebetulnya secara umum cerita yang diangkat dalam film ini udah pernah diangkat dalam film-film lain. Garis besarnya tentang cinta tulus meski pasangan memiliki keterbatasan fisik. Film ini sebetulnya bukan cuma tentang cinta, lebih dari itu berkisah tentang “hijrah” atau bahasa gaulnya move on baik secara lahiriah merantau ke Beijing, maupun secara batiniah dari pasangan yang belom jodoh kepada pasangan yang akhirnya berjodoh. Turbulensinya (cailah turbulensi apa pulak itu ๐Ÿ˜€ ) menjadi semakin rumit karna dalam perjalanan “hijrah”-nya Asma, tokoh utama dalam film ini, ia di vonis menderita sakit permanen yang membuatnya kehilangan kemampuan bicara. Selain itu film ini juga memberikan pandangan tentang Islam, interaksi dengan lawan jenis, agama, toleransi, sampai tentang perang. Film ini semakin punya “value” yang beda lewat “sentuhan”nya dalam menyampaikan hal-hal tersebut. Pas nonton tu saya ngerasa ada sensasi tertentu di hati yang sulit di deskripsi. Mungkin secara ringkasnya, saya semacam tersentuh sungguhan dengan kemurnian cinta yang disampaikan dalam film itu.

“Sentuhan” kemurnian cinta itu tentu tak terlepas dari ide cerita yang ditulis Mbak Asma, efek visual maupun audio yang dikemas secara apik oleh segenap kru produksi filmnya, dan tentu pancaran acting para pemainnya. Istilahnya mungkin “dapet banget soul-nya”. Diantara para pemainnya, selain Revalina S. Temat, acting Morgan Oey mungkin yang paling menyita perhatian saya. Bukan karna dia cakep, meskipun itu fakta sih hehe. Sungguh, saya gak suka banget sebelumnya sama Morgan ini. Dari dia di Sm*sh, sampe udah keluar dari Sm*sh. Kayak sok ganteng gitu ๐Ÿ˜€ Jadi gak suka. Haha segitunya banget sebelnya. Tapi liat actingnya di film Asslamu’alaikum Beijing ini, wow! Gimana ya, saya sih liatnya tu pancaran kemurnian hatinya Zhong Wen telak banget bisa dimainkan Morgan dengan sangat smooth, murni, tulus dan natural. Aaahhh kesel juga jadinya kenapa dia bisa keren gitu maennya. Haha. Hebat banget film ini, udah bisa bikin hati saya berbalik jadi simpatik sama Morgan ๐Ÿ™‚ Semoga hidayah Allah betul-betul merengkuh anda, tuan ๐Ÿ™‚

Okeh, tulisan ini terlalu banyak distractnya, hehe maap. Balik lagi bicara cinta. Barangkali saya hampir kehilangan memori tentang sensasi perasaan cinta dua insan manusia semacam ini gara-gara “mengesampingkan” sisi melankolis dalam diri sekian lama. Tak disangka serta merta sisi melankolis itu bangkit dari persemayamannya setelah nonton Assalamu’alaikum Beijing, hehe ๐Ÿ˜€ Tapi, udah bicara panjang lebar, tetep aja saya gak bisa ngeluarin kata-kata puitis tentang cinta. Mungkin kutipan dialog Zhong Wen kepada Asma ini bisa mewakili:

Cinta sejati itu ada. Dan tidak butuh fisik yang sempurna untuk kisah cinta yang sempurna.

Atau quotenya mba @asmanadia yang ini:

Jika tak kau temukan cinta, biar cinta menemukanmu.

Kalo saya ambil benang merah (bukan untuk dijait yak), pesan moral utama film ini (mungkin) harapan. Sebanyak apapun kita kehilangan, yang tak pernah boleh hilang adalah harapan. Sepayah apapun kita membangun harapan, yang tak pernah boleh putus adalah berharap pada Allah SWT. Dialah yang Maha luas Rahmatnya, tak pernah tidur, tidak pula mengantuk. Tak pernah lalai, tidak pula lupa. Tak pernah khilaf, tidak pula keliru. Dalam mengukur, memberi, mengambil, menetapkan segala sesuatu.

Ya, sepertinya itu ya yang saya rasakan setelah nonton film ini. Samacam menghembuskan kabar baik, harapan. Ini sungguh bukan resensi, hanya catatan pribadi, atas film yang sangat berkesan di hati ๐Ÿ˜‰ Apresiasi setinggi-tingginya untuk mbak Asma Nadia dan segenap pembuat serta pemain film Assalamu’alaikum Beijing. Semoga kerja kerasnya dalam film ini menjadi pemberat amal kebaikan, juga membawa kebaikan bagi sebanyaknya orang, dan dunia perfilman ๐Ÿ˜‰

Salam.
dari penonton yang nonton film ini 2 kali di hari perdana penayangannya ๐Ÿ˜€

Hujan di Masjidil Haram

Hari ini Indonesia merayakan hari raya Idul Adha 1435 H. Ehya, happy Eid Mubarak yahhh ๐Ÿ™‚ semoga kita semakin taat dan terhormat ๐Ÿ˜€

Tadi aku liat timeline twitter, terus ada salah satu surat kabar yang memberitakan bahwa hari ini, 5 Oktober 2014, Makkah diguyur hujan cukup deras selama 10 menit. Ini dia beritanya:

http://m.republika.co.id/berita/jurnal-haji/berita-jurnal-haji/14/10/05/ncz8cw-makkah-diguyur-hujan-agak-deras

Aha! Aku langsung inget PR-ku. PR yang ku tugaskan untuk diriku sendiri hehe aku janji pengen cerita di blog ini tentang pengalaman merasakan hujan saat di Masjidil Haram pada jelang malam 29 Ramadhan tahun ini. Oke, mari ku tunaikan ceritanya ya :’)

***

Pagi itu, 28 Ramadhan 1435 H, aku keluar dari Masjidil Haram sendirian sekitar pukul 6 setelah menunaikan sholat shubuh, dzikir dan tilawah. Saat keluar pintu masjid, udara sejuk khas pagi hari menerpaku. Sejuk sekali. Kemudian akuย  terus berjalan ke arah halaman masjid. Dan aku dibuat takjub dengan fenomena pagi itu. Udaranya tidak panas dan tidak dingin. Ku alihkan pandangan ke langit. MasyaAllah! Mendung! Langit Makkah penuh dengan awan putih, penuh sekali.
Kenapa aku kaget? Ini untuk pertama kalinya sejak aku ada di Makkah, sejak 21 Ramadhan lalu, akhirnya aku melihat awan di langit kota ini. Hari-hari kemarin aku terheran-heran mengapa kota ini langitnya sangat bersih, biru, dan sama sekali tidak ada awan. Sehingga terik matahari selalu menyengat. Suhu hariannya sekitar 43 derajat celcius. Jadi wajar jika aku takjub melihat langit pagi itu dipenuhi awan putih. Betul-betul penuh. Tapi anehnya, suasananya bukan seperti mau hujan. Yang terasa hanyalah kesejukan dan kedamaian.

Keluar dari halaman masjid, seperti biasa, puluhan burung merpati ramai-ramai pada “melantai” di aspal depan kerajaan Arab Saudi. Mereka berjalan-jalan, terbang rendah dan menyambut kami yang keluar masuk masjidil haram. Ini menambah romantis suasana.

Aku langsung teringat salah satu ciri hadirnya malam lailatul qadr: pagi harinya langit mendung dan udara sejuk. Wallahu’alam. Semoga Allah karuniakan kepada kita pahala yang nilainya setara ibadah 1000 bulan tersebut. Aamiin!

Sekitar jam 10 pagi setelah bebersih di hotel, aku kembali lagi ke masjidil haram sendirian. Keluargaku masih pada istirahat di hotel. Hari itu aku berniat thawaf sunnah sendirian. Sesampainya di masjidil haram, aku sholat sunnah berbagai rupa dan tilawah di lantai 2 dekat tempat sa’i. Baru sekitar jam 11 siang aku turun ke bawah, menuju ka’bah. Siang hari seperti itu biasanya yang thawaf tidak begitu ramai karena sedang panas-panasnya. Thawaf siang itu khusus aku dedikasikan untuk memuji memuja Allah. Kenapa aku sampai memperjelas begini tujuan thawafku? Karena ada saat-saat dimana thawaf bisa juga kita lakukan untuk meminta kepada Allah. Meminta apa saja, untuk dunia, untuk akhirat. Kali ini, aku khususkan thawafku sepenuhnya untuk memuji memuja Rabbku, dan tentu Rabbmu juga ya hehe. Aku sengaja membuat jadwal yang kurancang sendiri, tentang kapan aku ingin thawaf bertaubat, kapan thawaf meminta, kapan thawaf yang khusus untuk memuji dan memuja Allah semata.

Siang itu ku tatap langit sambil mulai mengitari ka’bah. Bersih. Aneh ya? Padahal pagi tadi baru saja langit penuh dengan awan putih. Subhanallah. Matahari betul-betul menyorot langsung kepada orang-orang yang sedang thawaf siang itu. Namun semua jamaah tak gentar dan tetap khusyuk larut dalam dzikirnya masing-masing. Aku thawaf sambil sering-sering memandang ka’bah yang elegan itu karna sekedar memandangnya saja katanya berpahala dan dirahmati Allah. Nikmat sekali rasanya ketika kita bisa beribadah tanpa punya agenda selain memuji memuja Allah semata. Air mata tanpa terasa mengalir karna kenikmatan itu.

Ka'bah Al Musyarofah

Ka’bah Al Musyarofah

Selesai thawaf tujuh putaran, aku sholat sunnah thawaf persis di belakang maqom Ibrahim. Masya Allah, sungguh kenikmatan tiada tara bisa bermunajat di tempat istimewa itu dan berhadapan langsung dengan ka’bah. Air mataku deras mengalir. Aku rasanya masih ingin berlamalama disitu kalau saja bukan karena para asykar yang sudah menghalau para wanita agar pindah ke tempat sholat khusus wanita sebab waktu zuhur segera tiba. Seusai sholat zuhur dan tilawah, aku merasa sangat ngantuk. Akhirnya kuputuskan kembali ke hotel untuk istirahat.

***

Ketika waktu ashar, aku kembali ke masjidil haram sendirian. Mama papaku sudah duluan keluar sejak dzuhur tadi karena mereka hendak umroh sunnah berduaan. Uhuk. Sedangkan adikku sedang berhalangan sholat. Aku berniat mengisi waktu dengan tilawah sambil menunggu waktu berbuka. Nah ini! Aku sukak banget buka puasa di masjidil haram. Jamaah travel yang bareng denganku termasuk keluargaku biasanya lebih memilih buka di hotel karena memang disediakan buka bersama. Namun aku merasa sayang melewatkan momentum mustajabnya doa ketika berbuka puasa jika tidak di masjidil haram sehingga aku sering ifthor ke masjid sendirian. Lagi pula, seru banget loh ifthor jamai bareng jamaah lainnya dari berbagai penjuru dunia ๐Ÿ™‚

Sambil menunggu berbuka puasa sore itu kuhabiskan waktu dengan tilawah. Sengaja aku mengambil tempat di dekat ka’bah. Kalau sedang sendirian seperti itu, aku memang sebisa mungkin mencari tempat yang dapat melihat ka’bah secara langsung dan dekat. Sore hari itu ku rasakan sangat payah. Haus banget sampe lemes rasanya. Mungkin aku dehidrasi. Ketika aku mulai gak kuat tilawah, aku memperhatikan sekitarku, mengamati segala macam tingkah laku dan ekspresi ibadah orang-orang dari berbagai macam negara. Menyenangkan sekali! Selain itu, saling sapa dengan orang di kanan kiriku dengan bahasa “tarzan” juga bagian hal menyenangkan lainnya. Cukup membuatku lupa pada kepayahan puasaku sore itu.

Lima belas menit menjelang buka puasa biasanya hampir semua jamaah di masjidil haram khusyuk berdoa sendiri-sendiri. Aku pun terbawa kebiasaan baik itu. Padahal kalo di indonesia, detik detik mau buka puasa biasanya ribet ngurusin makanan hehe bukannya berdoa. Di tengah khusyuknya doa masing-masing itu, adekku sms. Dia minta aku balik ke hotel karna ketakutan sendirian di kamar. Katanya suara geluduk besar sekali sampai tv di kamar mati. Di luar pun mendung banget katanya. Aku bimbang. Ku putuskan tetap di tempat sampai selesai maghrib. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba saja orang-orang didepan yang paling dekat dengan tempat thawaf pada berdiri. Sambil takbir dan mengangkat tangan tinggi-tinggi. Berdoa. Bertasbih. Bertahmid. Bertahlil. Bertakbir. Aku heran dengan keramaian yang tiba-tiba itu. Beberapa saat kemudian aku mendengar suara hujan dan geluduk. MASYA ALLAH, HUJAN!

Serta merta aku turut berdiri. Hampir semua jamaah berdiri, mengangkat tangan tinggi-tinggi, merapal doa bertubi-tubi. Seolah tak mau menyiakan berlapislapis kesempatan mustajabnya doa. Empat lapis momen keberkahan dan mustajab doa sekaligus: Di Masjidil Haram, bulan Ramadhan, ketika jelang buka puasa, di saat hujan mendera. Masya Allah, air mataku tak bisa kutahan. Betul-betul fenomena yang menggetarkan. Hampir sepuluh hari aku di kota ini diterpa panas siang bahkan malam. Sore itu hujan turun. Baarakallah yaa tanah haram! Berlapis-lapis keberkahan bagimu dan bagi yang berdoa saat itu. Masya Allah.

Habis sholat maghrib aku kembali ke hotel. Janji dengan adiku yang ketakutan sendirian hihi. Jalanan malam itu antara masjidil haram ke hotel tak seperti biasanya. Hujan sudah reda sejak sholat maghrib tadi. Namun bekas-bekas hujan masih jelas terlihat. Jalanan aspal basah oleh air, hal yang gak pernah kulihat sebelumnya. Udara dingin menerpa wajahku, padahal biasanya malam hari kadang masih terasa panas. Dan yang lebih amazing lagi adalah: bau hujan! Ku hirup udara dalam-dalam. Perpaduan yang lengkap untuk mengingatkanku pada kampung halaman. Betul-betul feels at home.

Aku tiba lebih dulu dari orangtuaku. Sesampainya mereka di kamar, kami heboh membicarakan fenomena hujan tadi. Ternyata ketika hujan turun petang tadi, orang tuaku sedang thawaf. Mereka merasakan langsung basahnya air hujan yang turun. Mamaku cerita, katanya tadi ada awan tebal yang tiba-tiba datang ke atas ka’bah. Kemudian orang-orang yang sedang thawaf langsung bertakbir. Tak lama kemudian hujan turun. Allahu Akbar!

28 Ramadhan 1435 H betul-betul hari yang penuh dengan kejutan! :’)