.dan percayalah pada Allah, melebihi percaya diri.

β€”Ust. Salim A. Fillah

Advertisements


Ternyata ujian, bukan untuk tahu seberapa kuat diri kita.
Rupanya supaya kita tau betapa lemahnya diri kita, fakirnya diri kita, bodohnya diri kita, dan betapa butuhnya kita pada Allah yang punya Kuasa atas segala sesuatu T_T

Kalau ga ada ujian, kita ga bakal tau betapa hambanya diri kita. Sehamba-hambanya.

Rabb, apapun, apapun, apapun
Setelah hari esok, setelah segala daya yang berasal dariMu sudah kukerahkan hingga tetes terakhir, selanjutnya terserah Engkau, aku ikut aja maunya gimana.
Aku gapapa insyaAllah, yang penting Allah jangan tinggalin aku…

image

er i ri n d u du.

Hai yang disana,
Duhai tanah haram, adakah juga merindukanku?
Assalamu’alaika yaa Rasul saw, rindu pulakah engkau kepadaku?

Udara, terik, tanah, harum, dinding, air zamzam, kurma, aku pun merindukan kalian karena Allah.

Wahai imam masjidil haram,, sungguh aku merindui malam-malam menangis dalam shalat bersama tuan-tuan sekalian T_T

Inikah Rabb, hikmah Kau pertemukanku dengan semua itu setahun lalu di bulan Ramadhan?
Agar tiap Ramadhan datang, rinduku tak tertahan lagi.

Tiap shalat menangis terbayang sedang shalat disana,
Tilawah tiba-tiba bergetar melelehkan air mata, merasakan suasana duduk di masjidil haram membaca Alqur’an sambil menunggu berbuka.
Detik demi detik dalam puasa, tiap jejak langkah, tiap hembus nafas, merasai rindu yang tak sudah-sudah.

Bagaimana aku menyudahi kerinduan ini? Ah~~~ bahkan aku menikmatinya. Bahkan aku tak ingin Allah mencabut rindu ini. Bahkan aku ingin terus merinduinya.

Allah, berkenankah mengundangku kembali, Mengobati rindu yang sampai ke ubun-ubun ini?

Aku rindu bersujud padaMu di atas tanah haram, ya Rabbalharramain……
Duhai pemilik ka’bah, baitullah, dan tanah haram.

Jadilah Tenang

image

Yak ketenangan. Yang kita perlukan adalah ketenangan. Dalam kondisi bagaimanapun. Menghadapi situasi apapun.

Dalam Susah perlu ketenangan. Senang pun nyatanya perlu mengandung ketenangan.

Saat Sempit butuh ketenangan. Nyatanya lapang hanya terjadi bila merasakan ketenangan.

Dan luarbiasanya, siapakah yang mampu memberikan ketenangan itu selain Allah?
Gak ada. Cuma Allah. Minta, pada-Nya.

Makasi @nuridasd udah ngirim ayat 4 surat Alfath (kemenangan) waktu tanggal 13 Mei. Semoga kemenangan milik kita bersama πŸ™‚

Pertemuan Pertama, dan (ternyata) Terakhir

Perkebunan Kurma Madinah, Ramadhan 1435 H.

Di sebuah toko pusat perbelanjaan Kurma di Madinah,

Ibu X: “Bu, kurma yang bagus yang mana sih, Bu?”
Mama: (sambil milih-milih kurma) “Kalau tadi sih saya beli kurma yang itu. Eh Bu, itu ada Didi Petet.”
Ibu X: “Oh iya bu.”
Mama: “Gak ikut poto-poto, Bu?”
Ibu X: “Oh iya Bu, itu suami saya”

JENG JENG huehehe

Gak lama kemudian, kami sekeluarga minta ikut berfoto dengan Didi Petet.

image

Saya gak ikutan, karna foto itu saya yang capture hehe sayang sekalih. Itu untuk pertama kali bertemu dengan beliau, dan ternyata juga adalah yang terakhir kali. Alhamdulillah Allah takdirkan pertemuan itu di salah satu Kota suci, Madinah. Dan di bulan mulia, Ramadhan. Saat itu yang terlintas di otak saya, masya Allah yah, ternyata seorang artis senior sesibuk dan selaris Didi Petet menyempatkan umroh I’tikaf di bulan Ramadhan πŸ™‚ Beliau juga mau-an diajakin foto ama jama’ah umroh lainnya hehe πŸ™‚

Hari ini 15 Mei 2015, kurang lebih 32 hari jelang Ramadhan 1436 H, hampir setahun sejak pertemuan pertama itu, Didi Petet dipanggil duluan sama Allah SWT. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu. Semoga Allah tempatkan ditempat yang mulia disisi-Nya.

Saya lagi-lagi tertegun, jelang Ramadhan sepertinya banyak sekali Allah memanggil hamba-Nya. Dari kalangan artis saja, beberapa pekan belakangan ini hampir tiap pekan ada yang meninggal. Olga, Mpok Nori, Pepeng, Andri Djarot, dan hari ini Didi Petet. Subhanallah…betapa Maha Berkehendaknya Allah. Kapan tiba giliran kita?

Kapankah Ramadhan terakhir bagiku? Allah, semoga Engkau berkenan menjadikan tiap Ramadhan sebagai ampunan atas bergunungnya dosa-dosa. Dan setelahnya menjadi ibadah yang khusyuk tak putus-putus hingga ajal menghantarkan kami pada-Mu. Semoga khusnul khatimah.

Sampaikanlah kami pada Ramadhan tahun ini, Rabb. Sampaikanlah lagi…sebagaimana Engkau pun menyampaikan kami pada Ramadhan yang lalu. Semoga kami tidak menjadi hamba-Mu yang kufur atas kesempatan itu.

5 Tahun Kemudian

Tepat hari ini, 5 tahun yang lalu, saya nulis ini di note facebook ketika sedang masa ngejar-ngejar pembimbing skripsi untuk ngumpulin laporan magang dan segera harus ngumpulin skripsi jugak:

Sodare2 yg Budiman…tahukah Bgmn pak Hafiz itu terkenal gmn??

kata org2, beliau kasar, galak, dsb.. tp sy mah ga percaya….:)

Walopun tiap mo konsul, hati sy ketar ketir…tp sy yakin blw akan membimbing sy dgn sangat baik.

Contohnya adalah pengelaman saya kemarin (Jum’at, 7 Mei’10)

ketika mau minta tanda tangan Laporan Magang. Tak di sangka….sy dapat membuatnya tergelak. Utk pertama kalinya sepanjang sejarah konsul saya, Beliau tertawa sebegitu lepasnya. dan itu karna saya!! waahhh…senangnya…:D

Begini ceritanya….

Pa Hafiz: “Ada apa Non?”

Andin: “Misi Pak, sy mo mnt ttd laporan magang…”.

Pa Hafiz:”oohh..sini non!”.

Sambil membubuhkan ttd di laporan sy, blw bicara,

“Non, bisa tlg cariin PANADOL di sana ga?” sambil menunjuk ke suatu arah..

sayang sekali sodare2…sy tdk mendengar ucapan beliau dgn jelas. maka yg terjadi adalah,

“maaf pak, cariin ‘Pak’ siapa, pak?” (Sambil berpikir keras mengeja tiap ucapan pa hafiz barusan..>.<…)

Pa Hafiz: "Hah??! Pak siape?? pak nadol mksd lw? temennya pak ali yak??? hahahaha…non..non…bukan pak siape…tp PANADOL obat sakit kepala..hahaha..:D"

Oh My God!! jauh bener yak jawaban saya…??

Aduuuhh..malunya saya. apalagi di ruangan mutu itu byk mhsw S2 yg ikutan ngetawain saya..

sy cm bs nyengir2 aje dah..di ketawain seisi ruangan Mutu FKM….(-_-')

Pa Haifz: "Tau PANADOL kaga non?"

karna udah terlanjur bikin org pd ketawa…maka sense of ngelawak saya kumat. saya jawab aja:

"Jangankan Pak Nadol, pak…., Bu Nadol juga saya tau!! Hehehe…"

BHuahahahaha….tergelak utk kesekian kalinya seisi ruangan itu.

Ketika sy mo pamit, dgn sungguh2 sy mengajukan pertanyaan:

"Pak, Jadi beli PANADOLnya?"

Pa Hafiz:"hehehe…ga jadi non…" (dengan tampang tulus krn kasihan pada saya…)

Subhanallah…..lancarnya….tanpa tegang sama sekali!

Alhamdulillah…heeeeeheeeheee πŸ™‚

Keluar dari ruangan itu, senyum lebar tak lepas-lepas menyungging di bibir saya….

bahkan sampe pulang ke rumah sy nyengir2 sendiri..hahahahhaaayyy….gokil bgt dah…berani2nya saya ngajak Pak hafiz bercanda…:D πŸ˜€

***

Hari ini, 5 tahun kemudian setelah itu, saya sedang dalam rangka ngejar-ngejar (beberapa) informan untuk diwawancara demi keperluan tesis yang detlen akhir bulan ini. Hihi ya kenapa pulak kemaren terlalu santai, jadi aja ngos-ngosannya mendekati finish! πŸ˜›

3 kawan seangkatan saya sudah sidang tesis, bahkan 1 diantaranya sidang tesis beberapa minggu setelah saya (baru) seminar proposal tesis. Ia, selain lulus tercepat, juga adalah yang termuda diangkatan kami. Huahahaha kalah telak! πŸ˜€

Ayoklah optimis!!!! Masih ada waktu, maksimalin segalanya. Demi gak nambah bayaran kuliah yang sekian belas jutjut itu hiiii jangan sampe ya Allah plis T_T

Lebih dari itu, Rabb, karuniakanlah kami ilmu yang barokah dan manfaat πŸ™‚

image

NIKAH: SEMANGAT ATAU SIAP?

Antara “Semangat Nikah” dengan “Siap Nikah” itu: BEDA!

Ketahuilah: pernikahan itu butuh banyak sekali persiapan.

“Kok ngelarang-larang orang nikah, Bang?”

Ada yang kalian belum mengerti, sebelum memasuki gerbang ini. Kehidupan yang sama sekali berbeda, tidak bisa dijalani modal kata, “YES, AKU PASTI BISA!”

Pertanyaannya: sudah berapa lama kalian mempersiapkan diri? Apa saja yang kalian lakukan? Buku, ceramah, ilmu, nasihat apa yang kalian dengar dan miliki?

Banyak sekali kita temukan orang semangat nikah. Tapi apakah itu selalu linear dengan kesiapannya?

Siap itu bukan nyali berani nikah. Siap itu mampu mengatasi apapun yang terjadi pasca nikah. Semangat akan terbukti di hari H walimah. Tapi siap adalah setelah itu.

Berhari, berminggu, berbulan, tahun-tahun dengan masalah yang tak menentu.

Berjubel lajang diprovokasi untuk menikah. Tapi, apa provokatornya mengingatkan: pentingnya persiapan?
Ya Salaam. Ijab qabul itu mudah. Namun setelah itu, perjuangan luar biasa. Kalau bukan urusan “gawat darurat”, belajarlah baik-baik.
Serap, fokus, mantap.

Saya bukan melarang anak muda menikah. Bahkan saya sering kok, menganjurkan mereka menikah. Tapi, nikah modal semangat itu seperti nyuruh orang perang, tapi nggak dikasih senjata.

Keren? Kagak.

Konyol? Banget!

– Asa Mulchias –

“Berjubel lajang diprovokasi untuk menikah” Hahahah eta pisan! Bocen, kadang. πŸ˜›